Senin, 22 Maret 2010

STUDY KOTA MAKALE tahun 1975

Pengantar ke persoalan.

Sekalipun kota Makale tidak mempunyai suasana yang baik untuk perkembangan sebuah kota, tetapi kemungkinan perkembangan itu tetap ada.

Ditinjau dari segi jumlah penduduk, bermacam-macamnya ras (golongan), lapangan kerja , dinamika tingkatan hidup, maka ciri sebuah kota belum tercermin di Makale.

Pengamatan sepintas yang dilakukan selama 5 hari sebenarnya belum cukup untuk suatu studi perkotaan. Tetapi seorang arsitek perkotaan terkenal merpunyai semboyan “ Observation is prime tool to urban design". Sehingga studi kota Makale ini secara positif bisa diwujudkan dengan titik tolak pengamatan ini.

Maksud dari studi kota Makale ini supaya kita dapat nengusulkan perencanaan segala aktifitas manusia dan hubungan antar aktifitasnya di "kota" ini.

Survey kota Makale,

Sejarah dan latar belakang.

Ibu kota Kabupaten Tana Toraja adalah kota Makale, Ditetapkannya Makale sebagai ibu kota Kabupaten mempunyai sejarah sebagai berikut :

Pada tahun 1907 Belanda memasuki Tana Toraja, pada saat itu pemerintah Belanda memilih Rantepao sebagai pusat pemerintahan. Kota Makale hanya merupakan tempat tinggal Gubernur.

Pada tahun 1913 di Rantepao timbul pemberontakan, sehingga berdasarkan letak yang strategis dan lebih dekat ke Makasar, maka pusat pemerintahan dipindah ke Makale. Pemindahan ini berlaku hingga sekarang dan Makale tetap merupakan ibukota Kabupaten Tana Toraja.

Berdasakan keadaan pada saat ini dimana pusat pemerintahan ada di Makale, tetapi kota Makale kenyataannya lebih kecil dari kota Rantepao. Keadaan ini mencerminkan perkembangan kota Makale yang lambat. Hal ini disebabkan faktor adat juga karena pertimbangan pembangunan lebih ditekankan di desa-desa. Sekalipun begitu, karena secara administratif merupakan pusat pusat maka Makale mencoba memberikan tanda-tanda bahwa disitulah adanya. Ini dicoba dicapai dengan digunakannya bekas rumah pada pemerintahan Belanda yang letaknya cukup strategis menghadapi kolam dan ditengah-tengah kota.

Iklim

Makale terletak didataran yang tinggi dengan udara yang sejuk dan segar. Curah hujan dan banyaknya hujan adalah sebagai berikut (curah hujan /banyak hujan perbulan /hari):

Januari 226,995/ 13

Februari 244,95 /11,6

Maret 285,35/ 12,7

April 270,6 /13,3

Mei 220,1/12,4

Juni 157,5 /9,8

Juli 81,97/ 7,3

Agustus 120,9 /7,4

September 98,35/ 5,8

Oktober 117,35/ 6,9

Nopember 158,855/ 9,8

Desember 240,5 / 11,6

Penduduk:

Jumlah penduduk Makale adalah 4399 orang ditambah 42 warga negara asing, dengan perincian sebagai berikut( Laki/ Perempuan/ Warga Negara Asing):

0-4 tahun L 382/P 353 WNA : 6/4

5-14 tahun 526/637 8/4

15-24 tahun 765/666 7/3

25 keatas 367/702 5/5

Agama

Sebagian besar penduduk beragama Protestan dan yang lainnya beragama Katholik, Islam dan Alukta.

Jumlah rumah Ibadah :

Gereja 4 buah, Mesjid 2 buah

Mata Pencaharian:

Mayoritas penduduk menjadi pegawai negeri. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan peranan kota Makale sabagai pusat pererintahan Kabupaten. Yang lain merupakan penduduk yang menjadi petani, berkebun atau berdagang.

4. Fasilitas Umum.

Pendidikan. Jumlah Sekolah di kota makale dengan perinciannya adalah sebagai berikut:

Sekolah Dasar (SD) : 25 buah

Sekolah Menengah Pertama (SMP) : 3 buah

Sekolah Teknik Negeri : 1 buah

SKKA : 1 buah

SMA : 2 buah

STM : 2 buah

SMEA : 1 buah

SPG : 1 buah

PGA : 1 buah

Kesehatan:

Dikota yang berpenduduk hampir 5.000 ini mempunyai tenaga dokter hanya 3 orang. Ketiga dokter ini melayani penduduk melalui fasilitas-fasilitas kesehatan yang macan-macam dan jumlah_ ialah sebagai berikut:

-Rumah Sakit : 2 buah

-Balai pengobatan : 2 buah

-B.K.I.A : 5 buah

-R.S. Bersalin : 3 buah

Toko dan pasar.

Dikota makale terdapat hanya satu ( satu) pasar, itupun cuma diadakan seminggu sekali.

Hotel, Losmen, Wisma, Penginapan dan Restauran.

Di kota Makale jumlah fasilitas untuk wisatawan ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kota Rantepao. Mungkin ini karena pusat atau tempat-tempat wisata berada disekitar Rantepao .

Sekalipun begitu disini masih terdapat losmen dan wisma sekalipun ada yang letaknya agak diluar kota. Tentang restauran dapat dikatakan tidak ada. Yang ada hanya berupa warung atau kedai kecil.

Adapun jumlah losmen dan wisma di Makale adalah sebagai berikut :

-Wisma Yani milik swasta

-Wisma Bharana milik Pemda Sulsel

-Losmen Merry milik swasta

-Losmen Martha milik swasta

Fasilitas untuk rekreasi,

Kota makale sebetulnya susah untuk dikatakan sebagai sebuah kota. Karena selain ukurannya kecil juga penduduknya sedikit. Lagi pula fasilitas untuk rekreasi hampir dikatakan tidak ada. Ditengah kota ada semacam taman yang rupan juga berfungsi sebagai STK,

Faslitas khusus penyediaan bahan bangunan.

Pada umumnya bahan-bahan bangunan banyak dihasilkan di daerah ini, tetapi berhubung kwalitasnya kurang baik terpaksa sebagian didatangkan dari Palopo atau Ujung Pandang.

Bahan-bahan mentah untuk dibuat bahan bangunan sebenarnya cukup banyak cuma biasanya terbentur pada masalah pengolahannya yang kurang sempurna. Berikut ini akan diuraikan tentang penyediaan bahan bangunan menurut penggunaan & tempatnya :

Bahan pondasi

Batu kapur : banyak terdapat dibukit-bukit kapur disekeliling Makale

Semen : merek Tonasa dari Ujung Pandang.

Pasir : dari sungai Maulu.

batu : dipakai batu gunung yang banyak terdapat dimana-mana

Bahan lantai :

Semen : ex Tonasa, ex Philipina

Papan : jenis Uru (Kualitas 2) banyak di daerh Makale.

Tegel/ubin : didatangkan dari Ujung Pandang dan masih sangat jarang dipakai pada

bangunan pribadi.

Bahan dinding:

Kayu : Kalapi ( kualitas 1) dari Palopo, kayu Uru (kwalitas 2) dari Tator.

Bata : Produksi setempat yang hanya digunakan untuk bangunan-bangunan umum seperti halnya tegel.

Bambu : banyak terdapat disekitar Makale.

Bahan bahan lain

Atap : selain bambu atap sekarang memakai seng yang didatangkan dari Ujung Pandang. Sirap dari Kalimantan. genteng hasil produksi setempat.

Pasir beton : dari sungai Maulu.

Kayu bekisting : dipakai kayu jenis Nato, Bakan ( kwalitas 3) yang banyak didapat disini.

Cat : selain cat yang merupakan hasil dari rakyat (untuk cat ukiran), juga ada cat minyak dan kebanyakan merek ex Glotex.

Paku : toko-toko juga mulai menjual bahan ini mengingat kebutuhan.

Rotan : banyak didapat disekitar perbatasan

Luwu & Tator.

Alat sanitair : didatangkan dari Ujung Pandang.

Fasilitas angkutan.

Untuk lintas Ujung Pandang - Makale - Rantepao tersedia sarana angkutan darat yang berupa bis dan microbus dan bis-bis ini mulai trayeknya pada pagi dan malam hari. Angkutan laut dan udara tidak ada, begitu juga dengan kereta api. Untuk trayek antar lingkungan tersedia Colt yang bentuknya dibikin bentuk microbus. Sarana angkutan dalam kota tidak ada karena kecilnya ruang lingkup kota.

Adapun jumlah bis dan microbus menurut trayeknya:

Ujung Pandang- Makale- Rantepao: 16 buah bis Ujung Pandang - Makale - Rantepao - Palopo 4 buah bis. Jumlah Colt susah dihitung pada satu tempat mengingat trayeknya tak tentu tergantung di-pasar pada saat itu.

Perumahan.

Denagan penduduk lebih kurang 4.500 orang dapat diperkirakan jumlah pintu di kota Makale. Dari pengamatan satu rumah dihuni oleh satu keluarga yang terdiri dari dua orang tua beserta rata-rata 4 anak. Jadi rata-rata satu rumah dihuni oleh 6 jiwa. Berarti jumlah pintu lebih kurang 750 pintu.

Pertambahan penduduk di kota makale ini diperkirakan 2% pertahun, sehingga harus disediakan lebih kurang 15 pintu pertahun. Kenaikan hampir dikatakan tak berarti. Pertambahan yang relatif kacil ini disebabkan banyaknya pemuda yang merantau keluar daerah dan sedikit yang kembali. Survey data kenaikan ini belun pernah dilakukan.

Kondisi perumahan yang ada terbagi menjadi 3 kategori,baik, sedang dan buruk. Rumah yang ber kondisi baik jumlahnya sedikit sekali.

Insert: DAFTAR HARGA DAN UPAH DALAM KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TANA TORAJA KEADAAN BULAN JULI 1975

Analisa kota Makale.

1.Sejarah Kota.

Sejak dari pemindahan pusat pemerintah ke kota Makale pada tahun 1913, Makale sudah memperlihatkan ketepatannya sebagai ibukota dari Kabupaten Tana Toraja. Ia merupakan sebuah kota yang dikelilingi oleh bukit yang tinggi , dengan penduduk yang tidak terlalu banyak dan penempatan kantor pusat administratif yang strategis, Dan yang paling penting adalah bahwa Makale merupakan pintu gerbang dari Tana Toraja secara keseluruhan, karena dari kota inilah kita merasakan suasana dan alam Toraja

I k 1 i m.

Dari data yang didapat mengenai curah hujan dapat dikatakan bahwa iklim di kota Makale berlaku secara umum di Tana Toraja. Dengan demikian iklim tidak merupakan halangan bagi penduduk kota untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

3 . Penduduk .

3.1. Struktur : disini dapat dilihat bahwa Makale mempunyai penduduk usia muda dalam jumlah yang cukup banyak. Kenyataan ini akan memudahkan proses perkembangan kota karena mempunyai banyak tenaga yang produktip.

3.2. Agama: perbandingan antara jumlah pemeluk agama dengan jumlah bangunan ibadahnya cukup memadai dalam artikata tidak perlu lagi dibangun tempat tempat ibadah yang baru. Dengan demikian penggunaan tanah dapat dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih penting bagi proses kemajuan kota.

3.3. Mata pencaharian : ternyata penduduk kota sebagian besar menjadi pegawai negeri. Ini merupakan kenyataan yang baik, sehingga persoalan transport tidak merupakan beban yang beratbagi pemerintah Kabuaten Tana Toraja,

Adapun kebutuhan nereka sehari-hari disuplai oleh desa-desa sekitarnya. Hal ini secara tidak langsung telah mencerminkan hubungan yang erat antara Makale dengan daerah-daerah disekitarnya.

Fasilitas Umum

Pendidikan : untuk sebuah kota yang relatip kecil dan jumlah penduduk yang masih sedikit sekolah yeng aca sekarang dirasakan cukup banyak. Untuk masa 5 - 10 tahun mendatang yang perlu ditambah hanyalah sekolah-sekolah lanjutan atas dan sekolah-sekolah lanjutan atas dn sekolah-sekolah kejuruan. Dengan demikian tenaga dan keakhlian yang ada dan dihasilkan dapat langsung dipakai oleh daerah Tator sendiri.

Kesehatan, jumlah bangunan fasilitas kesehatan sudah cukup, hanya segi teknis yang menyangkut segi persyaratan bangunan yang sehat yang masih perlu di tingkatkan. Kelemahannya terletak pada tenaga medis. Jumlah dokter sebanyak 3 orang terlalu sedikit dibandingkan jumlah penduduk dan luasnya wilayah yang harus dilayani. Harus diingat bahwa dokter dokter tersebut tidak hanya melayani kota Makale saja, tetapi juga desa-desa sekelilingnya. hal ini merupakan salah satu sebab masih belum berhasilnya pemberantasan penyakit menular di Tana Toraja.

Toko, pasar dan perumahan : letak daerah pertokoan dan pasar yang berada disatu tempat membuat Makale mempunyai daerah mixed-use. Didalamnya bercampur 3 macam penggunaan pasar ditengah dikelilingi oleh bangunan-bangunan lantai, toko-toko dilantai bawah dan rumah tinggal di lantai 2. Adanya daerah mixed-use ini memberikan aksen pada kehidupan kota Makale, terutama pada hari pasar yang terjadi setiap 6 hari. Keadaan seperti ini baik untuk dipertahankan tentunya denganp perbaikan-perbaikan pada bangunan Pasarnya. Karena fungsinya sebagai kota administratif, memang tidak diperlukan terlalu banyak penginapan, Karena kota ini sebaiknya hanya berfungsi sebagai pintu gerbang saja dan tidak untuk menampung para-wisatawan. Satu bagian dari kota ini yang baik untuk dipertahankan adalah taman yang merangkap sebagai STK. Taman tersebut secara visuil merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan kantor Bupati dan kolam ditengah-tengah. Taman ini beserta kolam tadi sekaligus akan berfungsi sebagai tempat rekreasi penduduk kota Makale.

Transportasi :jumlah kendaraan yang ada Makale menunjukkan bahwa kota ini masih belum dibebani persoalan transportasi yang juga berhubungan dengan sarana jalan. Frekwensi yang padat hanya terjadi antara Makale- Rantepao, karena kedua kota itu merupakan kota-kota yang terbesar di kabupaten Tana Toraja. Tetapi harus dipikirkan juga kemungkinan bertambahnya arus wisatawan yang dating yang berarti juga peningkatan volume dan frekwensi kendaraan antara Ujung pandang- Makale- Rantepao. Harus diusahakan supaya peningkatan kegiatan tersebut tidak mengganggu ketenangan bekerja dari penduduk kota Makale, seperti dalam keadaanya sekarang. dari analisa beberapa factor yang terjadi di Makale , dapat dilihat secara garis besar hal-hal sebagai berikut:

1. kota Makale sebagai ibukota Kabupaten Tana Toraja lama kelamaan pasti berkembang. dalam perkembangan itu, yang harus diperhatikan oleh para pengusaha daerah adalah:

a. adanya pengelompokan fungsi-fungsi yang sama dalam satu daerah yang sama dalam satu kota

b. adanya aksentuasi didalam suasana kota

c. menjaga keadaan-keadan yang sekarang sudah baik, sehingga perluasan kota tidak sampai harus mengorbankan keadaan yang sudah baik tersebut.

2. Dengan cara ini, Makale akan dapat mempertahankan dirinya sebagai pintu gerbang dari tana toraja dan wibawanya sebagai ibukota kabupaten tana Toraja.

KESIMPULAN.

Dari hasil survey dan analisa diatas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang kondisi-kondisi “kota” Makale pada waktu sekarang serta kemungkinan-kemungkinan untuk perkembangan pada masa yang akan datang.


Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975
Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .
( Agus Adhi, Agus Mulia, Budiono Busyaeri, Saptono Istiawan, Diniari, Alm.Wahyu Sardono ( Dono warkop), Hedi Nursalin Silaban, Listyo Sumantri, Siti Joko, Julizar Amran Abdi, Adhika Bhayangkari, Ronald Londam Tambun, Budi Adelar Sukada, Haryono, Djoko Suryono, Andy Widjaja, Sugianto Lohanda, Azrar Hadi, Robert Lawang, Seniwono Hanifa, Prof . Dipl. Ing Suwondo BS, Prof Valerine, SH, Ir. Yan Ciptadi. Peserta tamu: alm. ibu Wancin Suwondo dan Maruto Suwondo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar