Selasa, 04 Mei 2010

EKONOMI PASAR TANA TORAJA.


Kesibukan di Pasar Makale. foto Jan Ciptadi

Suatu gambaran umum dari segi sosiologis.
Pendahuluan.
Pengamatan dan wawancara dengan para "pedagang keliling" dan "pedagang tetap" yang berlokasi dalam pasar, diperkuat dengan pengamatan dan wawancara yang diadakan di desa-desa dan para Pegawai Kantor Pasar. Dari sejumlah data tersebut disusun suatu analisa sosiologis ekonomis dengan urutan sebagai berikut ;
1. Penjelasan konsep-konsep yang digunakan
2. Identifikasi pemasalahan.
3. Kupasan data.
4. Saran-saran untuk jalan keluar.
Konsep-konsep yang digunakan :
a. pasar tetap : pasar yang digunakan setiap hari oleh pedagang yang sama dalam suatu lokasi tertentu di dalam pasar, menurut peraturan yang berlaku; misal : Surat Ijin Pemerintah, Pembayaran Pajak, dan sebagainya. 
b. pedagang tetap : pedagang yang menggunakan "pasar tetap” setiap hari sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
c. pasar keliling ; pasar yang digunakan pada hari tertentu saja oleh pedagang
yang sama pada suatu lokasi tertentu sesuai dengan ketentuan -peraturan yang berlaku.
d. pedagangan keliling : pedagangan yang ikut berkeliling dari satu pasar ke pa¬sar lainnya sesuai dengan jadwal giliran pasar 6 harian.

Identifikasi permasalahan ;
Masalah sosiologis ekonomis yang timbul karena adanya institusi sosial dalam bentuk “pasar keliling", dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. sebagai suatu: institusi sosial (pranata sosial) , dapatkah "pasar keliling" di Tana Toraja berfungsi sebagai pendorong kepada tercapainya semangat berusaha (enterpreneurship) bagi para “pedagang keliling"?
b. yang disebut semangat berusaha disini adalah tingkah laku pedagang yang giat, hemat (reinvestasi) , berencana sehingga pada suatu waktu tertentu mereka masih dapat mencapai tingkat kemajuan yang memadai.

Data yang terkumpul menunjukkan adanya kecenderungan bahaya institusi sosial "pasar keliling" membawa persoalan-persoalan tertentu yang dapat menghalangi perkermbangan dan kemajuan para pedagang keliling di Tator.
Misal : masalah hakekat, masalah finansiel, masalah strukturil, dan sebagainya; sehingga pasar keliling sebagai suatu institusi sosial yang bergerak dalam bidang supply dan demand perlu dipikirkan kembali.
c. dari lain pihak perlu dikemukakan bahwa institusi sosial pasar keliling sudah lama dikenal
orang di Tator kedudukannya dalam bidang kehidupan ekonomi cukup sentral. Malah sudah sedemikian mendarah daging ( internalized) sehingga banyak pola tingkah laku sosial diwataki dan didasari oleh Institusi sosial ini. Oleh karena itu persoalan yang timbul adalah : apakah institusi sosial ini dapat merupakan suatu sarana yang relevan untuk suatu pembangunan khususnya pembangunan manusia yang memiliki semangat usaha yang baik ?
Kalau tidak, maka bagaimanakah bentuk yang sebaiknya dapat nenciptakan alam berusaha yang baik?

Kupasan data 2
Pasar sebagai suatu institusi sosial merupakan suatu sarana pembangunan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk memmenuhi kebutuhan dalam bidang permintaan dan penawaran. Untuk merealisir terpenuhinya kebutuhan ini, ada norma-norma yang diciptakan masyarakat untuk memperlancar jalannya ketertiban dan perkembangan yang wajar, Persoalan yang timbul dari adanya pasar keliling ini adalah bahwa sebagai sarana ia tidak dapat lagi menjamin perkembangan usaha yang memadai. Untuk mengenal persoalan itu harus diketahui terlebih dahulu hakekatnya, keadaan faktuilnya, keadaan eksistensilnya, sehingga jelas terlihat dimana ada kekosongan yang tidak dapat diisi lagi oleh sarana tersebut.

a. tujuan pasar keliling 5 pasar keliling sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Tator dalam bidang sandang pangan. Keadaan geografis dan fisik daerah Tator cukup menjadi alasan untuk mempertahankan pasar keliling sehingga masyarakat pembeli tidak perlu harus menempuh jarak yang sangat sulit dilalui kendaraan itu. Suatu hal yg sangat menarik untuk diteliti lebih mendalam adalah seberapa jauh institusi sosial ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Tator mengingat bahwa bentuk pasar keliling sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.

Dalam beberapa kali wawancara dengan orang-orang di kampung-kampung ada pertanda yang menunjukkan bahwa kehidupan berekonomi mereka berpusat pada pasar keliling. Pasar diadakan sekali dalam 6 hari. Selama itu mereka sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti pasar sebaik-baiknya.

Kalau kita membagi pasar keliling menurut para pembelinya adalah sebagai berikut : para pedagangan keliling dan pedagang tetap :

Dalam pengamatan yang diadakan di Pasar Makale muncul data yang sangat menarik perhatian, yang tidak diduga sebelumnya tapi justru merupakan bahan yang paling penting untuk pengamatan selanjutnya. Yang akan menuju suatu pengamatan yang lebih mendalam lagi mengenai suatu konsep yang menyangkut pasar keliling.

Dari sini lahirlah hipotesa kerja yang menggiring pengamatan sampai selesai seluruhnya. (lihat "serendipity pattern" dari Robert K. Merton dalam bukunya "Social Theory and Social Structure” khususnya mengenai "research and sociological theory" halaman 32 dst.). 
Yang disebut data yang bersifat "unanticipated anomalous dan strategic" terjadi pada saat berpapasan dengan sejumlah besar pedagangan yang kemarinnya diwawancarai di pasar Sanggila, tetapi bukan dalam rangka mencari data mengenai konsep pasar keliling dan segala persoalannya.

Dari 45 orang pedagang keliling di Makale, ada 28 orang pedagang wanita dan hanya 21 orang pedagang laki-laki. Dari informasi yang mereka berikan ada beberapa orang dari pedagang wanita yang sudah 'kematian suaminya, tetapi sebagiah besar dari mereka berkecimpung dibidang perdagangan karena suka berdagang.

Pertanyaan apakah mereka tidak terlalu repot dan meletihkan berpindah setiap hari dari satu tempat ke tempat lain menurut giliran hari pasar, maka jawabannya adalah mereka sudah biasa dan karena itu sama sekali tidak merupakan persoalan bagi mereka lagi. Akan tetapi setelah muncul pertanyaan apakah yang menjadi persoalan mereka selama menjalankan usaha perdagangan keliling, maka apa yang disebut "bukan persoalan" ternyata merupakan suatu persoalan yang dapat menghambat mereka untuk dapat menjadi seorang pedagang yang baik. Persoalan mereka dapat dikategorikan sbb. :
- persoalan finansiel.
- persoalan organisasionil
- persoalan strukturil.

Finansiel : sebagian besar pedagang keliling ini berasal dari dan keturunan asli Tator. Jawaban yang seragam atas pertanyaan mengapa mereka tidak membuka satu toko yang tetap, jawabnya karena kekurangan modal. Perhitungan yang dikemukakan terutama berdasarkan untung ruginya memakai sistirn pasar keliling atau pasar tetap. Menurut kebanyakan para pedagangan keliling untuk mendirikan sebuah toko yang tetap perlu modal cukup besar dan kekuatan bersaing yang dapat menandingi toko-toko milik orang Bugis, Bone, Enrekang, Ujung Pandang atau Tionghoa. Jumlah uang untuk dapat membuka satu toko yang tetap berkisar 4 sampai 5 juta rupiah.
Persoalan untuk kami adalah pertanyaan: apakah dengan modal sedemikian kecilnya sungguh-sungguh mereka tidak dapat mendirikan sebuah toko yang tetap, atau sebaliknya; kalau mereka diberi modal yang cukup besar maukah mereka melepaskan pola berdagang keliling dan mendirikan sebuah kios atau toko kecil?
Diantara para pedagang itu cukup banyak yang menjalankan usaha dagangnya selama 5 atau 10 tahun. Namun perkembangan usaha selama itu tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Beberapa jawaban menunjukkan keterikatan mereka pada bentuk pasar kelilung didorong oleh beberapa faktor : tidak mau mengambil risiko untuk mengadakan bentuk usaha baru karena modal mereka terlampau kecil. Kalaupun diberi modal, mereka merasa tidak mampu untuk bersaing dengan pedagang-pedagang pendatang. Disini timbulah semacam sikap rendah diri dan nasib, bahwa perdagangan tetap (membuka toko tetap) bukanlah diperuntukkan bagi mereka melainkan bagi pedagang pendatang.
Pada setiap pasar yang mereka datangi mereka mempunyai hutang budi/moril pada para pembeli yang selalu membeli barang-barang mereka dengan sistim hutang. Jalinan "famili" seperti ini kadang-kadang menyebabkan tersebarnya modal para pedagang dibeberapa pasar keliling. Pola pembayaran seperti ini sudah lama dipraktekkan sehingga mereka segan untuk melepaskan bentuk pasar keliling dengan begitu saja.
Mereka tidak mau meminjam uang pada Bank Rakyat Indonesia yang terletak di Rantepao karena meminjam uang pada Pemerintah hanya mendatangkan urusan yang tidak perlu, dan menciptakan persoalan baru. Banyak prosedure peminjaman yang mereka tidak ketahui sehingga enggan untuk berusaha lebih. Keadaan seperti sekarang saja sudah cukup untuk mereka.
Sebagian besar pedagang keliling ini adalah pedagang kecil. Jumlah modal yang dimilikinya tidak lebih dari 1/2 juta. Dengan sejumlah modal tersebut mereka merasa beruntung dengan memakai sistim dagang keliling daripada menetap disatu tempat.

Organisasionil : maksudnya ialah bagaimana mereka bisa rnengorganisir perdagangan mereka sehingga satu waktu mereka dapat mencapai suatu tingkatan tertentu berupa kemajuan yang memadai. Persoalan ini dipertanyakan karena ada beberapa pedagang yang telah berusaha selama 7 -8 tahun dan tetap saja menjadi pedagang keliling dengan modal yang tidak bertambah besar.
Seperti sudah diketahui, pasar keliling setiap hari berpindah tempat sesuai dengan jadwal gilirannya. Jarak satu kelain tempat sebetulnya tidak terlalu jauh namun keadaan jalannya cukup parah, sehingga biaya transportasi cukup tinggi. Dan ini merupakan pengeluaran setiap hari yang harus ditanggung oleh para pedagang keliling. Biaya yang dikeluarkan setiap harinya untuk pangangkutan berkisar 400-500 rupiah. belum lagi pajak harian yang harus dibayar pada setiap kali lewat, karcis masuk antara Rp 100-150,- tergantung dari jumlah barang dagangannya. Makin banyak barang dagangannya makin tinggi pajaknya. Mereka juga harus melunasi pajak tahunan sebesar Rp 750,- Jadi selama setahun biaya pengeluarannya adalah sebesar Rp. 234.750,-
Selain persoalan biaya, jarak perjalanan yang mereka tempuh setiap hari dan urusan persiapan di pagi hari dan pengepakan kembali di sore hari merupakan tugas yang memakan banyak enersi. Kesempatan untuk merefleksikan apa yang mereka kerjakan setiap harinya sulit sekali dilaksanakan. Apa yang dikatakan oleh David Mc Clelland mengenai "knowledge of results of notions" tidak dapat dikembangkan dengan semestinya. Oleh karena itu mereka sendiri tidak dapat menilai pekerjaan mereka sendiri. Mereka hanyut oleh pekerjaan hariannya dan tidak ada kesempatan untuk membangkitkan gairah berusaha yang lebih baik. Yang disebut "long-range planning" terlupakan karena sibuknya mereka dengan pekerjaan jalan-jalan dan menjajakan serta mengumpulkan kembali barang-barangnya. ini merupakan konsekwensi; dari adanya bentuk pasar keliling.

Strukturil : yang dimaksud adalah persoalan perdagangan yang disebabkan karena adanya pola tingkah-laku yng berulang tetap sebagai akibat dari adanya bentuk pasar keliling sebagai suatu institusi sosial.
Seperti sudah diketahui, bentuk pasar keliling sudah dikenal sejak jaman Belanda. Generasi yang hidup sekarang mengenal pasar keliling sebagai suatu institusi sosial yang bergerak dilapangan ekonomi. Dari uraian terdahulu jelas bahwa sebagian besar pedagang keliling adalah orang Toraja asli.
Pedagang-pedagang ini beroperasi di desa-desa, sedangkan di kota beroperasi pedagang-pedagang pendatang, misal : Bugis, Bone, dan sebagainya. Kebanyakan dari pedagang-pedagang ini beragama Islam.
Dari sini timbul pengelompokan pedagang keliling yang beragama Kristen, kebanyakan melayani kebutuhan masyarakat desa; dan pedagang tetap beragama Islam melayani kebutuhan masyarakat kota.
Perbedaan ini sepintas lalu kelihatannya tidak membawa persoalan, namun kalau dianalisa lebih mendalam, struktur seperti ini membawa persoalan yang cukup berarti. Seperti diketahui, sebagian besar penduduk Toraja (308.553 jiwa) beragama Kristen/Protestan/Katholik. 2797 jiwa beragama Islam dan 12.478 jiwa beragama Allu'ta. Sebetulnya perasaan kekelompokkan ini merupakan salah satu sebab mengapa pedagang keliling lebih suka berdagang keliling daripada berdagang tetap. Kelihatan bahwa mereka mengindentitaskan dirinya bukan melalui pekerjaannya, melainkan melalui agamanya. In-group dan out-group feeling cukup kuat. Dari masalah strukturil ini muncul masalah ethis yang menyangkut asli Toraja dan bukan Toraja; masalah religious nenyangkut Kristen dan non-Kristen; masalah mayoritas dan minoritas ; masalah pedagang keliling dan pedagangn tetap, etc.

Para Pembeli :
Untuk memudahkan persoalan, para pembeli dapat dibagi 2 kelompok - pembayar kontan
- sistim hutang.
Yang pertama banyak terdapat dikota, yang kedua banyak terdapat di desa dimana beroperasi para pedagang keliling.
Dalam suatu hubungan yang tertentu proses ini berjalan dengan membawa persoalan yang tersembunyi, yang pada hakekatnya justru merupakan hambatan yang dapat menghalangi kemajuan berusaha para pedagang keliling. Hubungan ini adalah sangat manusiawi dan sangar "familier" dan sudah sedemikian berakarnya sehingga beberapa pedagangan keliling sudah mempunyai hubungan yang tetap dengan orang-orang tertentu dan selalu dengan hutang-piutang. Ini merupakan dasar pengikat "persaudaraan/kefamilian". Dari beberapa orang pedagang keliling diperoleh informasi bahwa mereka punya banyak langganan pribadi seperti yang disebut kan diatas. Atas dasar hubungan ini mereka menjalankan perdagangan kelilingnya sampai saatnya sekarang. Bagaimana cara merubahnya, rupanya cukup menantang para sosiolog.

Pemakai pasar yang bukan pembeli dan bukan penjual :
Kasus ini sangat menarik perhatian. Mereka tidak menjual ataupun membeli barang-barang. Mereka dikategorikan demikian karena apa yang mereka jual/beli sungguh-sungguh tidak berarti dilihat dari waktu yang mereka pergunakan dan uang yang mereka terima/keluarkan. Seperti para pedagang, mereka sudah berada di pasar pada pagi hari dan pulang pada sore harinya. Kalau mereka tidak membawa bekal dari rumah, mereka menanak nasi di pasar secukupnya untuk makan hari itu. Sementara itu mereka minum-minum Balo (tuak), makan sirih, ngobrol, dan sebagainya. Mereka memberi kesan sedang berpiknik saja.
Sementara itu kita melihat bahwa disamping pasar ada banyak pedagang keliling yang terpaksa membentang tendanya sendiri, karena kurangnya lokasi gedung dalam pasar. Kalau pasar merupakan institusi sosial, apakah hal ini tidak bisa dihindarkan sehingga para pedagang keliling dapat menempati pasar dengan lebih enak?. Ini merupakan pertanyaan yang patut diajukan pada Kantor Pasar di kota Makale dan Rantepao. Jawaban yang diadakan adalah bahwa ini merupakan satu kebiasaan yang sulit untuk dirubah lagi.

Saran-saran Penanggulangan :
Diatas telah kelihatan persoalan yang dihadapi oleh para pedagang keliling. Yang perlu dirubah adalah mencari bentuk pasar sebagai satu institusi sosial yang berguna untuk pengembangan usaha perdagangan dan sementara itu dapat melayani kebutuhan masyarakat terutama yang tinggal didesa-desa.
Sistim pasar keliling bisa dan boleh dipertahankan asal prasarana jalan diperbaiki, sehingga mereka tidak banyak dibebani oleh persoalan finansiel. Sebaliknya kalau menekankan persoalan organisatoris, strukturil, para pembeli, dan sebagainya, sebagai satu persoalan yang cukup primer; pendidikan non-formil dan campur-tangan Pemerintah untuk merubah bentuk institusi sosial pasar, sangat diharapkan. Sebagai satu anjuran, misalnya : disetiap ibukota kecamatan diadakan unit-unit perdagangan tetap. Bantuan modal dari Pemerintah sangat diharapkan agar para pedagang keliling dapat mempunyai sebuah toko tetap. Dapat meninggalkan profesinya yang lama dan mau menetap disatu tempat agar dapat berdagang dengan lebih stabil.
Semangat berdagang pada orang Toraja memang ada, namun bila tidak diarahkan dengan baik dengan kekuatan yang datang dari luar; tidak mustahil mereka hanya akan bisa hidup dari hari kehari, gali lubang tutup lubang. Perkembangan yang berarti sulit dilaksanakan selama institusi lama tetap dipertahankan.


Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975

Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .
( Agus Adhi, Agus Mulia, Budiono Busyaeri, Saptono Istiawan, Diniari, Alm.Wahyu Sardono ( Dono warkop), Hedi Nursalin Silaban, Listyo Sumantri, Siti Joko, Julizar Amran Abdi, Adhika Bhayangkari, Ronald Londam Tambun, Budi Adelar Sukada, Haryono, Djoko Suryono, Andy Widjaja, Sugianto Lohanda, Azrar Hadi, Robert Lawang, Seniwono Hanifa, Prof . Dipl. Ing Suwondo BS, Prof Valerine, SH, Ir. Yan Ciptadi . Peserta tamu: alm. ibu Wancin Suwondo dan Maruto Suwondo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar