Rabu, 03 Juni 2009

PARIWISATA DI TANA TORAJA DI 1975


Gambaran Umum

Tana Toraja sebagai suatu wilayah dimana tinggal suku Toraja. Sebenarnya suku Toraja ini mendiami wilayah tidak hanya di kabupaten Tana Toraja saja, tetapi sampai sebelah Timur daerah Poso yang memaakai bahasa Baree (sebagai sebutan tidak), sebelah Barat mendiami daerah sebelah Barat Palu dan sebelah Selatan mendiami daerah yang disebut Kalumpang dengan bahasa Tae (untuk menyebut kata tidak) . Disamping itu masih ada suku Toraja yang berada di daerah pantai Timur Sulawesi Tengah yaitu daerah Bungku dan kepulauan Banggai.

Tetapi yang menjadi daerah survey team kuliah kerja Arsitektur dan Sosiologi Universitas Indonesia adalah suku Toraja yang mendiami hulu sungai Sa'dan dan terutama di dae rah sekitar Makale (ibukota Tana Toraja/ untuk kemudian disebut TATOR) dan Rantepao. Tator ini merupakan daerah pegunungan yang sangat indah dengan jurang, lembah dan bukit-bukit batu yang menonjol merupakan perpaduan yang serasi dengan Adat Istiadat Kebudayaan yang khas Toraja.

Dengan ke khasan keindahan alam, kebudayaan dan adat inilah yang menjadikan Kabupaten Tana Toraja direncanakan sebagai obyek Pariwisata yang sangat menarik, sehingga dalam konferensi PATA 1974 Tator merupakan obyek Pariwisata yang menarik disamping Bali dan Toba.

Arus turis atau wisatawan dalam atau luar negeri setelah konferensi PATA ternyata semakin meningkat, dimana pada tahun 1970 cuma 21 orang tetapi pada tahun 1974 meningkat menjadi 1.552 wisatawan.

Pada tahun 1975 sampai bulan Mei tercatat 320 wisatawan (lihat statistik Tourisme 1970-1975 ). Angka yang sangat menyolok setelah PATA ini membuat semacam harapan bahwa TATOR mempunyai potensi yang cukup baik untuk berkembang rnenjadi daerah pariwisata. Dan un tuk ini jelas memerlukan studi yang lebih teliti dan mendalam.

Kalau kita melihat angka touris bulanan dalan tahun 1974 terdapat loncatan angka yang menaik dari juni hanya 29 wisatawan, Juli 273 wisatawan, Agustus menjadi 452 wisatawan dan September turun menjadi 71 wisatawan.

Rupanya bulan Juli dan Agustus bertepatan dengan musim panas di Eropah dan Amerika yang biasanya merupakan musim liburan bagi wisatawan yang berminat (lihat tabel statistik bulanan tahun 1974).

Fasilitas/Sarana.

Fasilitas yang berupa sarana perhubungan antar obyek pariwisata satu dan lainnya yang berupa jalan rupanya belum banyak mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah. Jalan yang masih buruk dan pemeliharaan obyek wisatawan yang minim, disamping sarana angkutan yang berupa bus dan kendaraan yang sangat terbatas.

Demikian pula sarana Akomodasi yang terbatas seperti penginapan, wisma, hotel masih sangat sederhana untuk memenuhi persyaratan Dengan taraf nasional dan Internasional. Hanya wisma Bharana milik Pemda Sulawesi Selatan dan Wisma Hassanuddin milik Kodam XIII di Makale dan Wisma Maria di Rantepao yang cukup memenuhi syarat.

Sarana Akomodasi di Makale ada 5:

Wisma Hassanuddin milik Kodam XIII

Wisma Bharana milik Pemda Sulsel

Wisma Yani milik Swasta

Losmen Merry milik Swasta

Losmen Martha milik Swasta

Sedang di Rantepao ada kurang lebih 10 yang tercatat:

Wisma Maria milik Swasta

Wisma Martini milik Swasta

Wisma Pola milik Swasta

Wisma Malango milik Swasta

Penginapan Missliani milik Swasta

Penginapan Sarla milik Swasta

Penginapan Tanabua milik Swasta

Penginapan Merry milik Swasta

Penginapan milik Swasta

Penginapan milik Swasta

Dengan sarana akomodasi ini TATOR tidaklah dapat memenuhi semua permintaan yang kadang bulan tertentu melampaui yang disediakan. Karena itulah timbul penginapan tidak resmi di rumah penduduk dengan rumah adat asli Toraja (Tongkonen). Biasanya touris lebih senang tinggal di rumah penduduk karena tarif permalam relatif lebih murah (dengan makan antara Rp 500,- sampai dengan_ 1.500,-). Sedangkan di wisma, hotel dan sebagainya tarip dengan makan antara Rp 3.000,- - Rp 5.000,-. Walaupun menginap di rumah penduduk sudah nendapat laranqan dari Buuati selaku pemerintah.

Tetapi dalam prakteknya ini belum bisa diawasi. Disamping itu menginap di rumah penduduk itu merupakan kekawatiran Pemda dalam hal pengaruh negatif yang mungkin timbul. Pertanyaan yang timbul apakah daerah ini sudah siap menerima wisatawan dengan segala konsekwensinya?Kabupaten Tana Toraja ini mempunyai obyek wisata yang merupakan potensi komersiel dan dapat di kembangkan. Jumlahnya sebanyak 15 buah disamping desa-desa tertentu yang mempunyai keindahan alam dan upacara adat yang menarik.

Kelima belas obyek itu ialah:

1. Salubarani terletak di km 30 dari Makale

2. Makale sendiri

3. Lemo km 8 utara

4. Tilangga km 10 utara

5. Londa km 16 utara

6. Rantepao km 18 utara

7. Ke’te km 18 timurlaut

8. Batutumonga km 50 utara

9. Lokomata km 55 utara

10. Palawa km 32 utara

11. Marante km 24 Timur laut

12. Nanggala km 30 timur laut

13. Siguntu km 16 utara

14. Makula (air panas) km 16 Tenggara

15. Bone dan Buisia km 12 utara

Di lima belas obyek wisata inilah terletak ke khasan Toraja, seperti keindahan alam di Batutumonga, kuburan batu di Lemo , kuburan gua di Londa, perkampungan asli Toraja dengan rumah-rumah adatnya( Palawa, Ke’te dan sebagainya) , pemandian air panas di Makula serta tempat souvenir yang khas Toraja disekitar Rantepao dan Kota Rantepao sendiri.

Pelaksanaan Pariwisata

Pemerintah daerah Tana Toraja sebagai koordinator melalui dinas pariwisatanya merasakan belum mendapat manfaat dari hasil pariwisata, sekalipun setiap setiap wisatawan yang masuk dan mengunjungi obyek wisata dipungut bayaran Rp. 1000,-. hasil pariwisata ini tidak ada ½% pun untuk dapat menunjang APBD Tana Toraja yang besarnya 1,3 Milyard Rupiah (1975-1976), dimana Rp 800 juta merupakan bantuan pusat dan Rp 500 juta hasil pendapatan daerah.Dari sini bisa dinilai dan dimengerti mengapa pemerintah daerah masih sangat membatasi dan memperbaiki sarana dan fasilitas pariwisata, karena memang kemampuan Tator yang sangat terbatas, disamping belum merasakan manfaatnya. Tetapi jelas Tator ini mempunyai potensi pariwisata yang bisa berkembang.

Di dalam kebijaksanaan pemda Tator juga disamping prioritas utama pengembangan desa dan pertanian juga direncanakan pengembangan pariwisata yang akan disiapkan dengan bantuan Ditjen Pariwisata dan Pemerintah Pusat, dan sampai sekarang Pemda masih melakukan pembatasan yang ketat karena kekhawatiran akan akibat-akibat negatip dari derasnya arus tourisme.

Ada beberapa Travel Biro yang mengusahakan arus wisstawan mengalir ke Tana Toraja antara lain :

1. Travel Biro Pacto.

2. Travel Biro Universal

3. Travel Biro Nitour

4. Travel Biro Tunas Indonesia

5. Travel Biro Cinta Karya (Ujung Pandang).

Dalam rombongan kecil Travel Biro ini sering mengantar orang 4 sampai 8 orang perbulan, dan informasi yang dapat diperoleh untuk bulan ini akan dating 127 turis (22 September’75) bertepatan dengandiadakannya upacara di Ke’te, Pesu dan Ba’tan.

Masalah yanq timbul dari Pariwisata.

Upacara khas Toraja yang nerupakan percerminan asli Adat Kebudayaan Tator, adalah upacara Rambo Solo’ (Asap menurun) yang merupakan upacara duka/sedih seperti upacara kematian. Sedang upacara Rambu Tuka’ (Asap menaik) adalah upacara kegembiraan/suka seperti upacara Ma’ Bugi yang dilakukan setelah upacara panen padi sebagai upacara syukur pada dewa-dewa dengan tari-tarian yang disebut Tari Pagelo’.

Dua jenis upacara ini yang paling menarik minat para turis untuk datang ke Tator tetapi yang menarik sekali adalah upacara kematian seorang Puang di Makale (bangsawan) atau Tomakaka di Rantepao yang sampai memakan waktu berhari-hari, dengan pesta besar-besaran bisa memotong ternak sampai 600 ekor babi dan 200 ekor kerbau.

Penyelenggaraan pesta tradisionil ini bisa memakan biaya berjuta-juta rupiah, hal ini merupakan satu kontradiksi dengan keadaan nyata masyarakat Tator yang relatip masih rendah taraf hidup dan dan kemampuannya.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa upacara-upacara itu bisa digolongkan sesuatu yang tidak produktip dan pemborosan yang sangat merugikan. Walaupun semua biaya dipikul secara gotong royong oleh masyarakat.

Ini jelas merupakan suatu masalah yang perlu dipikirkan, karena merupakan keadaan yang bertolak belakang. Disatu pihak Pemda ingin memajukan kehidupan rakyat dengan keluar dari tradisi yang merugikan dan tidak produktip, dilain pihak ada semacam keinginan agar terpeliharanya upacara tersebut dengan maksud komersil dan untuk dapat menarik wisatawan ke Tator yang mempunyai ke khasan itu.

Masalah lain yang masih memerlukan study yang lebih mandalam acalah apakah bidang Pariwata ini bisa dijadikan sektor yang produktif sebagai sumber dana sehingga bisa menunjang kelancaran sektor-sektor lain?.

Kemudian apakah sektor ini bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas Tana Toraja dan bukan hanya sebagian kecil pemilik modal yang bisa membuat Hotel, Restaurant, atau Toko-toko souvenir saja?.

Dalam pengamatan kami memang di obyek pariwisata ini tidak terdapat rakyat kecil yang menjajakan makanan, minuman atau souvenir yang khas Toraja, itu semua hanya bisa ditemui di took dan Restaurant Makale atau Rantepao dan bukan di desa dimana terdapat obyek Pariwisata atau upacara-upacara adat diadakan dan melihat upacara-upacara adat pun tidak dipungut bayaran alias gratis bagi para Turis. Hal ini jelas sangat merugikan.

Akhirnya yang menjadi kekawatiran mendalam adalah :

Jangan sampai masyarakat Tator ini atau Bangsa Indonesia umumnya hanya menjadi tontonan para Touris asing yang selalu menghendaki keaslian dan kekhasan kebudayaan, dengan membiarkan bangsa kita khususn'ya masyarakat Toraja ini terus menerus dan tetap tenggelam dalam alam tradisi serta adat yang merugikan .

Sebab hal tersebut jelas bertentanqan dengan tujuan Bangsa Indonesia, yang ingin mensejahterakan Bangsanya dan mencerdaskan serta memajukan kehidupan bangsa.

Karenanya pengembangan dunia pariwisata perlu dipikirkan masak-masak dan disesuaikan dengan kondisi situasi daerah dengan diadakan study dasar yang mendalam untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata dan kemampuan masyarakat sebenarnya.

Penutup.

Dilihat dari kekhasan keindahan alam, Adat Istiadat, dan Kebudayaan Tana Toraja ini memang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sektor Pariwisstanya.

Namun pengembangannya perlu dipikirkan dan direncanakan secara lebih teliti sesuai dengan tujuan bernegara dan bermasyarakat.

Semua ini jelas mengundang Pemerintah pusat untuk bisa ikut membantu/ terutama dalam fasilitas dan sarana jalan dan transportasi dalam pengembangan Pariwisata.

Gambaran dasar hasil penelitian ini jelas tidak berpretensi untuk bisa mewakili masalah Pariwisata seluruhnya di Tana Toraja namun setidaknya bisa merupakan gambaran awal untuk bisa dilanjutkan dengan study secara mendalam dan teliti dikemudian hari.

Masalah Pariwisata:

Sarana jalan.

Jalan-jalan raya yang menuju obyek obyek wisata umumnya dalam kondisi jelek. hal ini tentunya menghambat mekanisme perekonomian dan transportasi penduduk setempat.


Penginapan.

Sebaiknya tetap dipertahankan lokasinya berada dikota Makale dan Rantepao saja, karena hal ini membantu mengurangi pengaruh negatif yang mungkin timbul dari wisatawan asing khususnya.

Restaurant , Toko Souvenir.

Restaurant yang memadai kurang banyak, terutama yang berlokasi dikota. Toko souvenir cukup memadi di kta rantepao, hanya berlokasi ditempat wisata perlu dibuat tempat khusus sehinga tidak mengganggu obyek wisatanya.


Transportasi.

Untuk menuju ke obyek2 wisata perlu disediakan kendaraan. Tidak perlu setiap hari, tapi cukup padfa hari tertentu saja. Hal ini akan memudahkan wisatawan yang datang tidak dengan rombongan.


Obyek-obyek wisata.


Untuk obyek hidup seperti upacara kematian dan sebagainya, sebaiknya ruang gerak wisatawan asing dibatasi. Hal ini untuk menjaga keutuhan kebudayaan Toraja dari pengaruh negatif yang mungkin timbul. Sebab dalam upacara biasanya terjadi kontak langsung dengan penduduk.


Bagi obyek wisata yang baik, yang hidup maupun yang statis ( kuburan batu) perlu disediakan guide untuk memberikan penjelasan-penjelasan.



Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975
Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .
( Agus Adhi, Agus Mulia, Budiono Busyaeri, Saptono Istiawan, Diniari, Alm.Wahyu Sardono ( Dono warkop), Hedi Nursalin Silaban, Listyo Sumantri, Siti Joko, Julizar Amran Abdi, Adhika Bhayangkari, Ronald Londam Tambun, Budi Adelar Sukada, Haryono, Djoko Suryono, Andy Widjaja, Sugianto Lohanda, Azrar Hadi, Robert Lawang, Seniwono Hanifa, Prof . Dipl. Ing Suwondo BS, Prof Valerine, SH, Ir. Yan Ciptadi. Peserta tamu: alm. ibu Wancin Suwondo dan Maruto Suwondo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar