Selasa, 04 Mei 2010

EKONOMI PASAR TANA TORAJA.


Kesibukan di Pasar Makale. foto Jan Ciptadi

Suatu gambaran umum dari segi sosiologis.
Pendahuluan.
Pengamatan dan wawancara dengan para "pedagang keliling" dan "pedagang tetap" yang berlokasi dalam pasar, diperkuat dengan pengamatan dan wawancara yang diadakan di desa-desa dan para Pegawai Kantor Pasar. Dari sejumlah data tersebut disusun suatu analisa sosiologis ekonomis dengan urutan sebagai berikut ;
1. Penjelasan konsep-konsep yang digunakan
2. Identifikasi pemasalahan.
3. Kupasan data.
4. Saran-saran untuk jalan keluar.
Konsep-konsep yang digunakan :
a. pasar tetap : pasar yang digunakan setiap hari oleh pedagang yang sama dalam suatu lokasi tertentu di dalam pasar, menurut peraturan yang berlaku; misal : Surat Ijin Pemerintah, Pembayaran Pajak, dan sebagainya. 
b. pedagang tetap : pedagang yang menggunakan "pasar tetap” setiap hari sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
c. pasar keliling ; pasar yang digunakan pada hari tertentu saja oleh pedagang
yang sama pada suatu lokasi tertentu sesuai dengan ketentuan -peraturan yang berlaku.
d. pedagangan keliling : pedagangan yang ikut berkeliling dari satu pasar ke pa¬sar lainnya sesuai dengan jadwal giliran pasar 6 harian.

Identifikasi permasalahan ;
Masalah sosiologis ekonomis yang timbul karena adanya institusi sosial dalam bentuk “pasar keliling", dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. sebagai suatu: institusi sosial (pranata sosial) , dapatkah "pasar keliling" di Tana Toraja berfungsi sebagai pendorong kepada tercapainya semangat berusaha (enterpreneurship) bagi para “pedagang keliling"?
b. yang disebut semangat berusaha disini adalah tingkah laku pedagang yang giat, hemat (reinvestasi) , berencana sehingga pada suatu waktu tertentu mereka masih dapat mencapai tingkat kemajuan yang memadai.

Data yang terkumpul menunjukkan adanya kecenderungan bahaya institusi sosial "pasar keliling" membawa persoalan-persoalan tertentu yang dapat menghalangi perkermbangan dan kemajuan para pedagang keliling di Tator.
Misal : masalah hakekat, masalah finansiel, masalah strukturil, dan sebagainya; sehingga pasar keliling sebagai suatu institusi sosial yang bergerak dalam bidang supply dan demand perlu dipikirkan kembali.
c. dari lain pihak perlu dikemukakan bahwa institusi sosial pasar keliling sudah lama dikenal
orang di Tator kedudukannya dalam bidang kehidupan ekonomi cukup sentral. Malah sudah sedemikian mendarah daging ( internalized) sehingga banyak pola tingkah laku sosial diwataki dan didasari oleh Institusi sosial ini. Oleh karena itu persoalan yang timbul adalah : apakah institusi sosial ini dapat merupakan suatu sarana yang relevan untuk suatu pembangunan khususnya pembangunan manusia yang memiliki semangat usaha yang baik ?
Kalau tidak, maka bagaimanakah bentuk yang sebaiknya dapat nenciptakan alam berusaha yang baik?

Kupasan data 2
Pasar sebagai suatu institusi sosial merupakan suatu sarana pembangunan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk memmenuhi kebutuhan dalam bidang permintaan dan penawaran. Untuk merealisir terpenuhinya kebutuhan ini, ada norma-norma yang diciptakan masyarakat untuk memperlancar jalannya ketertiban dan perkembangan yang wajar, Persoalan yang timbul dari adanya pasar keliling ini adalah bahwa sebagai sarana ia tidak dapat lagi menjamin perkembangan usaha yang memadai. Untuk mengenal persoalan itu harus diketahui terlebih dahulu hakekatnya, keadaan faktuilnya, keadaan eksistensilnya, sehingga jelas terlihat dimana ada kekosongan yang tidak dapat diisi lagi oleh sarana tersebut.

a. tujuan pasar keliling 5 pasar keliling sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Tator dalam bidang sandang pangan. Keadaan geografis dan fisik daerah Tator cukup menjadi alasan untuk mempertahankan pasar keliling sehingga masyarakat pembeli tidak perlu harus menempuh jarak yang sangat sulit dilalui kendaraan itu. Suatu hal yg sangat menarik untuk diteliti lebih mendalam adalah seberapa jauh institusi sosial ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Tator mengingat bahwa bentuk pasar keliling sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.

Dalam beberapa kali wawancara dengan orang-orang di kampung-kampung ada pertanda yang menunjukkan bahwa kehidupan berekonomi mereka berpusat pada pasar keliling. Pasar diadakan sekali dalam 6 hari. Selama itu mereka sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti pasar sebaik-baiknya.

Kalau kita membagi pasar keliling menurut para pembelinya adalah sebagai berikut : para pedagangan keliling dan pedagang tetap :

Dalam pengamatan yang diadakan di Pasar Makale muncul data yang sangat menarik perhatian, yang tidak diduga sebelumnya tapi justru merupakan bahan yang paling penting untuk pengamatan selanjutnya. Yang akan menuju suatu pengamatan yang lebih mendalam lagi mengenai suatu konsep yang menyangkut pasar keliling.

Dari sini lahirlah hipotesa kerja yang menggiring pengamatan sampai selesai seluruhnya. (lihat "serendipity pattern" dari Robert K. Merton dalam bukunya "Social Theory and Social Structure” khususnya mengenai "research and sociological theory" halaman 32 dst.). 
Yang disebut data yang bersifat "unanticipated anomalous dan strategic" terjadi pada saat berpapasan dengan sejumlah besar pedagangan yang kemarinnya diwawancarai di pasar Sanggila, tetapi bukan dalam rangka mencari data mengenai konsep pasar keliling dan segala persoalannya.

Dari 45 orang pedagang keliling di Makale, ada 28 orang pedagang wanita dan hanya 21 orang pedagang laki-laki. Dari informasi yang mereka berikan ada beberapa orang dari pedagang wanita yang sudah 'kematian suaminya, tetapi sebagiah besar dari mereka berkecimpung dibidang perdagangan karena suka berdagang.

Pertanyaan apakah mereka tidak terlalu repot dan meletihkan berpindah setiap hari dari satu tempat ke tempat lain menurut giliran hari pasar, maka jawabannya adalah mereka sudah biasa dan karena itu sama sekali tidak merupakan persoalan bagi mereka lagi. Akan tetapi setelah muncul pertanyaan apakah yang menjadi persoalan mereka selama menjalankan usaha perdagangan keliling, maka apa yang disebut "bukan persoalan" ternyata merupakan suatu persoalan yang dapat menghambat mereka untuk dapat menjadi seorang pedagang yang baik. Persoalan mereka dapat dikategorikan sbb. :
- persoalan finansiel.
- persoalan organisasionil
- persoalan strukturil.

Finansiel : sebagian besar pedagang keliling ini berasal dari dan keturunan asli Tator. Jawaban yang seragam atas pertanyaan mengapa mereka tidak membuka satu toko yang tetap, jawabnya karena kekurangan modal. Perhitungan yang dikemukakan terutama berdasarkan untung ruginya memakai sistirn pasar keliling atau pasar tetap. Menurut kebanyakan para pedagangan keliling untuk mendirikan sebuah toko yang tetap perlu modal cukup besar dan kekuatan bersaing yang dapat menandingi toko-toko milik orang Bugis, Bone, Enrekang, Ujung Pandang atau Tionghoa. Jumlah uang untuk dapat membuka satu toko yang tetap berkisar 4 sampai 5 juta rupiah.
Persoalan untuk kami adalah pertanyaan: apakah dengan modal sedemikian kecilnya sungguh-sungguh mereka tidak dapat mendirikan sebuah toko yang tetap, atau sebaliknya; kalau mereka diberi modal yang cukup besar maukah mereka melepaskan pola berdagang keliling dan mendirikan sebuah kios atau toko kecil?
Diantara para pedagang itu cukup banyak yang menjalankan usaha dagangnya selama 5 atau 10 tahun. Namun perkembangan usaha selama itu tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Beberapa jawaban menunjukkan keterikatan mereka pada bentuk pasar kelilung didorong oleh beberapa faktor : tidak mau mengambil risiko untuk mengadakan bentuk usaha baru karena modal mereka terlampau kecil. Kalaupun diberi modal, mereka merasa tidak mampu untuk bersaing dengan pedagang-pedagang pendatang. Disini timbulah semacam sikap rendah diri dan nasib, bahwa perdagangan tetap (membuka toko tetap) bukanlah diperuntukkan bagi mereka melainkan bagi pedagang pendatang.
Pada setiap pasar yang mereka datangi mereka mempunyai hutang budi/moril pada para pembeli yang selalu membeli barang-barang mereka dengan sistim hutang. Jalinan "famili" seperti ini kadang-kadang menyebabkan tersebarnya modal para pedagang dibeberapa pasar keliling. Pola pembayaran seperti ini sudah lama dipraktekkan sehingga mereka segan untuk melepaskan bentuk pasar keliling dengan begitu saja.
Mereka tidak mau meminjam uang pada Bank Rakyat Indonesia yang terletak di Rantepao karena meminjam uang pada Pemerintah hanya mendatangkan urusan yang tidak perlu, dan menciptakan persoalan baru. Banyak prosedure peminjaman yang mereka tidak ketahui sehingga enggan untuk berusaha lebih. Keadaan seperti sekarang saja sudah cukup untuk mereka.
Sebagian besar pedagang keliling ini adalah pedagang kecil. Jumlah modal yang dimilikinya tidak lebih dari 1/2 juta. Dengan sejumlah modal tersebut mereka merasa beruntung dengan memakai sistim dagang keliling daripada menetap disatu tempat.

Organisasionil : maksudnya ialah bagaimana mereka bisa rnengorganisir perdagangan mereka sehingga satu waktu mereka dapat mencapai suatu tingkatan tertentu berupa kemajuan yang memadai. Persoalan ini dipertanyakan karena ada beberapa pedagang yang telah berusaha selama 7 -8 tahun dan tetap saja menjadi pedagang keliling dengan modal yang tidak bertambah besar.
Seperti sudah diketahui, pasar keliling setiap hari berpindah tempat sesuai dengan jadwal gilirannya. Jarak satu kelain tempat sebetulnya tidak terlalu jauh namun keadaan jalannya cukup parah, sehingga biaya transportasi cukup tinggi. Dan ini merupakan pengeluaran setiap hari yang harus ditanggung oleh para pedagang keliling. Biaya yang dikeluarkan setiap harinya untuk pangangkutan berkisar 400-500 rupiah. belum lagi pajak harian yang harus dibayar pada setiap kali lewat, karcis masuk antara Rp 100-150,- tergantung dari jumlah barang dagangannya. Makin banyak barang dagangannya makin tinggi pajaknya. Mereka juga harus melunasi pajak tahunan sebesar Rp 750,- Jadi selama setahun biaya pengeluarannya adalah sebesar Rp. 234.750,-
Selain persoalan biaya, jarak perjalanan yang mereka tempuh setiap hari dan urusan persiapan di pagi hari dan pengepakan kembali di sore hari merupakan tugas yang memakan banyak enersi. Kesempatan untuk merefleksikan apa yang mereka kerjakan setiap harinya sulit sekali dilaksanakan. Apa yang dikatakan oleh David Mc Clelland mengenai "knowledge of results of notions" tidak dapat dikembangkan dengan semestinya. Oleh karena itu mereka sendiri tidak dapat menilai pekerjaan mereka sendiri. Mereka hanyut oleh pekerjaan hariannya dan tidak ada kesempatan untuk membangkitkan gairah berusaha yang lebih baik. Yang disebut "long-range planning" terlupakan karena sibuknya mereka dengan pekerjaan jalan-jalan dan menjajakan serta mengumpulkan kembali barang-barangnya. ini merupakan konsekwensi; dari adanya bentuk pasar keliling.

Strukturil : yang dimaksud adalah persoalan perdagangan yang disebabkan karena adanya pola tingkah-laku yng berulang tetap sebagai akibat dari adanya bentuk pasar keliling sebagai suatu institusi sosial.
Seperti sudah diketahui, bentuk pasar keliling sudah dikenal sejak jaman Belanda. Generasi yang hidup sekarang mengenal pasar keliling sebagai suatu institusi sosial yang bergerak dilapangan ekonomi. Dari uraian terdahulu jelas bahwa sebagian besar pedagang keliling adalah orang Toraja asli.
Pedagang-pedagang ini beroperasi di desa-desa, sedangkan di kota beroperasi pedagang-pedagang pendatang, misal : Bugis, Bone, dan sebagainya. Kebanyakan dari pedagang-pedagang ini beragama Islam.
Dari sini timbul pengelompokan pedagang keliling yang beragama Kristen, kebanyakan melayani kebutuhan masyarakat desa; dan pedagang tetap beragama Islam melayani kebutuhan masyarakat kota.
Perbedaan ini sepintas lalu kelihatannya tidak membawa persoalan, namun kalau dianalisa lebih mendalam, struktur seperti ini membawa persoalan yang cukup berarti. Seperti diketahui, sebagian besar penduduk Toraja (308.553 jiwa) beragama Kristen/Protestan/Katholik. 2797 jiwa beragama Islam dan 12.478 jiwa beragama Allu'ta. Sebetulnya perasaan kekelompokkan ini merupakan salah satu sebab mengapa pedagang keliling lebih suka berdagang keliling daripada berdagang tetap. Kelihatan bahwa mereka mengindentitaskan dirinya bukan melalui pekerjaannya, melainkan melalui agamanya. In-group dan out-group feeling cukup kuat. Dari masalah strukturil ini muncul masalah ethis yang menyangkut asli Toraja dan bukan Toraja; masalah religious nenyangkut Kristen dan non-Kristen; masalah mayoritas dan minoritas ; masalah pedagang keliling dan pedagangn tetap, etc.

Para Pembeli :
Untuk memudahkan persoalan, para pembeli dapat dibagi 2 kelompok - pembayar kontan
- sistim hutang.
Yang pertama banyak terdapat dikota, yang kedua banyak terdapat di desa dimana beroperasi para pedagang keliling.
Dalam suatu hubungan yang tertentu proses ini berjalan dengan membawa persoalan yang tersembunyi, yang pada hakekatnya justru merupakan hambatan yang dapat menghalangi kemajuan berusaha para pedagang keliling. Hubungan ini adalah sangat manusiawi dan sangar "familier" dan sudah sedemikian berakarnya sehingga beberapa pedagangan keliling sudah mempunyai hubungan yang tetap dengan orang-orang tertentu dan selalu dengan hutang-piutang. Ini merupakan dasar pengikat "persaudaraan/kefamilian". Dari beberapa orang pedagang keliling diperoleh informasi bahwa mereka punya banyak langganan pribadi seperti yang disebut kan diatas. Atas dasar hubungan ini mereka menjalankan perdagangan kelilingnya sampai saatnya sekarang. Bagaimana cara merubahnya, rupanya cukup menantang para sosiolog.

Pemakai pasar yang bukan pembeli dan bukan penjual :
Kasus ini sangat menarik perhatian. Mereka tidak menjual ataupun membeli barang-barang. Mereka dikategorikan demikian karena apa yang mereka jual/beli sungguh-sungguh tidak berarti dilihat dari waktu yang mereka pergunakan dan uang yang mereka terima/keluarkan. Seperti para pedagang, mereka sudah berada di pasar pada pagi hari dan pulang pada sore harinya. Kalau mereka tidak membawa bekal dari rumah, mereka menanak nasi di pasar secukupnya untuk makan hari itu. Sementara itu mereka minum-minum Balo (tuak), makan sirih, ngobrol, dan sebagainya. Mereka memberi kesan sedang berpiknik saja.
Sementara itu kita melihat bahwa disamping pasar ada banyak pedagang keliling yang terpaksa membentang tendanya sendiri, karena kurangnya lokasi gedung dalam pasar. Kalau pasar merupakan institusi sosial, apakah hal ini tidak bisa dihindarkan sehingga para pedagang keliling dapat menempati pasar dengan lebih enak?. Ini merupakan pertanyaan yang patut diajukan pada Kantor Pasar di kota Makale dan Rantepao. Jawaban yang diadakan adalah bahwa ini merupakan satu kebiasaan yang sulit untuk dirubah lagi.

Saran-saran Penanggulangan :
Diatas telah kelihatan persoalan yang dihadapi oleh para pedagang keliling. Yang perlu dirubah adalah mencari bentuk pasar sebagai satu institusi sosial yang berguna untuk pengembangan usaha perdagangan dan sementara itu dapat melayani kebutuhan masyarakat terutama yang tinggal didesa-desa.
Sistim pasar keliling bisa dan boleh dipertahankan asal prasarana jalan diperbaiki, sehingga mereka tidak banyak dibebani oleh persoalan finansiel. Sebaliknya kalau menekankan persoalan organisatoris, strukturil, para pembeli, dan sebagainya, sebagai satu persoalan yang cukup primer; pendidikan non-formil dan campur-tangan Pemerintah untuk merubah bentuk institusi sosial pasar, sangat diharapkan. Sebagai satu anjuran, misalnya : disetiap ibukota kecamatan diadakan unit-unit perdagangan tetap. Bantuan modal dari Pemerintah sangat diharapkan agar para pedagang keliling dapat mempunyai sebuah toko tetap. Dapat meninggalkan profesinya yang lama dan mau menetap disatu tempat agar dapat berdagang dengan lebih stabil.
Semangat berdagang pada orang Toraja memang ada, namun bila tidak diarahkan dengan baik dengan kekuatan yang datang dari luar; tidak mustahil mereka hanya akan bisa hidup dari hari kehari, gali lubang tutup lubang. Perkembangan yang berarti sulit dilaksanakan selama institusi lama tetap dipertahankan.


Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975

Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .
( Agus Adhi, Agus Mulia, Budiono Busyaeri, Saptono Istiawan, Diniari, Alm.Wahyu Sardono ( Dono warkop), Hedi Nursalin Silaban, Listyo Sumantri, Siti Joko, Julizar Amran Abdi, Adhika Bhayangkari, Ronald Londam Tambun, Budi Adelar Sukada, Haryono, Djoko Suryono, Andy Widjaja, Sugianto Lohanda, Azrar Hadi, Robert Lawang, Seniwono Hanifa, Prof . Dipl. Ing Suwondo BS, Prof Valerine, SH, Ir. Yan Ciptadi . Peserta tamu: alm. ibu Wancin Suwondo dan Maruto Suwondo)

Senin, 22 Maret 2010

STUDY KOTA MAKALE tahun 1975

Pengantar ke persoalan.

Sekalipun kota Makale tidak mempunyai suasana yang baik untuk perkembangan sebuah kota, tetapi kemungkinan perkembangan itu tetap ada.

Ditinjau dari segi jumlah penduduk, bermacam-macamnya ras (golongan), lapangan kerja , dinamika tingkatan hidup, maka ciri sebuah kota belum tercermin di Makale.

Pengamatan sepintas yang dilakukan selama 5 hari sebenarnya belum cukup untuk suatu studi perkotaan. Tetapi seorang arsitek perkotaan terkenal merpunyai semboyan “ Observation is prime tool to urban design". Sehingga studi kota Makale ini secara positif bisa diwujudkan dengan titik tolak pengamatan ini.

Maksud dari studi kota Makale ini supaya kita dapat nengusulkan perencanaan segala aktifitas manusia dan hubungan antar aktifitasnya di "kota" ini.

Survey kota Makale,

Sejarah dan latar belakang.

Ibu kota Kabupaten Tana Toraja adalah kota Makale, Ditetapkannya Makale sebagai ibu kota Kabupaten mempunyai sejarah sebagai berikut :

Pada tahun 1907 Belanda memasuki Tana Toraja, pada saat itu pemerintah Belanda memilih Rantepao sebagai pusat pemerintahan. Kota Makale hanya merupakan tempat tinggal Gubernur.

Pada tahun 1913 di Rantepao timbul pemberontakan, sehingga berdasarkan letak yang strategis dan lebih dekat ke Makasar, maka pusat pemerintahan dipindah ke Makale. Pemindahan ini berlaku hingga sekarang dan Makale tetap merupakan ibukota Kabupaten Tana Toraja.

Berdasakan keadaan pada saat ini dimana pusat pemerintahan ada di Makale, tetapi kota Makale kenyataannya lebih kecil dari kota Rantepao. Keadaan ini mencerminkan perkembangan kota Makale yang lambat. Hal ini disebabkan faktor adat juga karena pertimbangan pembangunan lebih ditekankan di desa-desa. Sekalipun begitu, karena secara administratif merupakan pusat pusat maka Makale mencoba memberikan tanda-tanda bahwa disitulah adanya. Ini dicoba dicapai dengan digunakannya bekas rumah pada pemerintahan Belanda yang letaknya cukup strategis menghadapi kolam dan ditengah-tengah kota.

Iklim

Makale terletak didataran yang tinggi dengan udara yang sejuk dan segar. Curah hujan dan banyaknya hujan adalah sebagai berikut (curah hujan /banyak hujan perbulan /hari):

Januari 226,995/ 13

Februari 244,95 /11,6

Maret 285,35/ 12,7

April 270,6 /13,3

Mei 220,1/12,4

Juni 157,5 /9,8

Juli 81,97/ 7,3

Agustus 120,9 /7,4

September 98,35/ 5,8

Oktober 117,35/ 6,9

Nopember 158,855/ 9,8

Desember 240,5 / 11,6

Penduduk:

Jumlah penduduk Makale adalah 4399 orang ditambah 42 warga negara asing, dengan perincian sebagai berikut( Laki/ Perempuan/ Warga Negara Asing):

0-4 tahun L 382/P 353 WNA : 6/4

5-14 tahun 526/637 8/4

15-24 tahun 765/666 7/3

25 keatas 367/702 5/5

Agama

Sebagian besar penduduk beragama Protestan dan yang lainnya beragama Katholik, Islam dan Alukta.

Jumlah rumah Ibadah :

Gereja 4 buah, Mesjid 2 buah

Mata Pencaharian:

Mayoritas penduduk menjadi pegawai negeri. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan peranan kota Makale sabagai pusat pererintahan Kabupaten. Yang lain merupakan penduduk yang menjadi petani, berkebun atau berdagang.

4. Fasilitas Umum.

Pendidikan. Jumlah Sekolah di kota makale dengan perinciannya adalah sebagai berikut:

Sekolah Dasar (SD) : 25 buah

Sekolah Menengah Pertama (SMP) : 3 buah

Sekolah Teknik Negeri : 1 buah

SKKA : 1 buah

SMA : 2 buah

STM : 2 buah

SMEA : 1 buah

SPG : 1 buah

PGA : 1 buah

Kesehatan:

Dikota yang berpenduduk hampir 5.000 ini mempunyai tenaga dokter hanya 3 orang. Ketiga dokter ini melayani penduduk melalui fasilitas-fasilitas kesehatan yang macan-macam dan jumlah_ ialah sebagai berikut:

-Rumah Sakit : 2 buah

-Balai pengobatan : 2 buah

-B.K.I.A : 5 buah

-R.S. Bersalin : 3 buah

Toko dan pasar.

Dikota makale terdapat hanya satu ( satu) pasar, itupun cuma diadakan seminggu sekali.

Hotel, Losmen, Wisma, Penginapan dan Restauran.

Di kota Makale jumlah fasilitas untuk wisatawan ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kota Rantepao. Mungkin ini karena pusat atau tempat-tempat wisata berada disekitar Rantepao .

Sekalipun begitu disini masih terdapat losmen dan wisma sekalipun ada yang letaknya agak diluar kota. Tentang restauran dapat dikatakan tidak ada. Yang ada hanya berupa warung atau kedai kecil.

Adapun jumlah losmen dan wisma di Makale adalah sebagai berikut :

-Wisma Yani milik swasta

-Wisma Bharana milik Pemda Sulsel

-Losmen Merry milik swasta

-Losmen Martha milik swasta

Fasilitas untuk rekreasi,

Kota makale sebetulnya susah untuk dikatakan sebagai sebuah kota. Karena selain ukurannya kecil juga penduduknya sedikit. Lagi pula fasilitas untuk rekreasi hampir dikatakan tidak ada. Ditengah kota ada semacam taman yang rupan juga berfungsi sebagai STK,

Faslitas khusus penyediaan bahan bangunan.

Pada umumnya bahan-bahan bangunan banyak dihasilkan di daerah ini, tetapi berhubung kwalitasnya kurang baik terpaksa sebagian didatangkan dari Palopo atau Ujung Pandang.

Bahan-bahan mentah untuk dibuat bahan bangunan sebenarnya cukup banyak cuma biasanya terbentur pada masalah pengolahannya yang kurang sempurna. Berikut ini akan diuraikan tentang penyediaan bahan bangunan menurut penggunaan & tempatnya :

Bahan pondasi

Batu kapur : banyak terdapat dibukit-bukit kapur disekeliling Makale

Semen : merek Tonasa dari Ujung Pandang.

Pasir : dari sungai Maulu.

batu : dipakai batu gunung yang banyak terdapat dimana-mana

Bahan lantai :

Semen : ex Tonasa, ex Philipina

Papan : jenis Uru (Kualitas 2) banyak di daerh Makale.

Tegel/ubin : didatangkan dari Ujung Pandang dan masih sangat jarang dipakai pada

bangunan pribadi.

Bahan dinding:

Kayu : Kalapi ( kualitas 1) dari Palopo, kayu Uru (kwalitas 2) dari Tator.

Bata : Produksi setempat yang hanya digunakan untuk bangunan-bangunan umum seperti halnya tegel.

Bambu : banyak terdapat disekitar Makale.

Bahan bahan lain

Atap : selain bambu atap sekarang memakai seng yang didatangkan dari Ujung Pandang. Sirap dari Kalimantan. genteng hasil produksi setempat.

Pasir beton : dari sungai Maulu.

Kayu bekisting : dipakai kayu jenis Nato, Bakan ( kwalitas 3) yang banyak didapat disini.

Cat : selain cat yang merupakan hasil dari rakyat (untuk cat ukiran), juga ada cat minyak dan kebanyakan merek ex Glotex.

Paku : toko-toko juga mulai menjual bahan ini mengingat kebutuhan.

Rotan : banyak didapat disekitar perbatasan

Luwu & Tator.

Alat sanitair : didatangkan dari Ujung Pandang.

Fasilitas angkutan.

Untuk lintas Ujung Pandang - Makale - Rantepao tersedia sarana angkutan darat yang berupa bis dan microbus dan bis-bis ini mulai trayeknya pada pagi dan malam hari. Angkutan laut dan udara tidak ada, begitu juga dengan kereta api. Untuk trayek antar lingkungan tersedia Colt yang bentuknya dibikin bentuk microbus. Sarana angkutan dalam kota tidak ada karena kecilnya ruang lingkup kota.

Adapun jumlah bis dan microbus menurut trayeknya:

Ujung Pandang- Makale- Rantepao: 16 buah bis Ujung Pandang - Makale - Rantepao - Palopo 4 buah bis. Jumlah Colt susah dihitung pada satu tempat mengingat trayeknya tak tentu tergantung di-pasar pada saat itu.

Perumahan.

Denagan penduduk lebih kurang 4.500 orang dapat diperkirakan jumlah pintu di kota Makale. Dari pengamatan satu rumah dihuni oleh satu keluarga yang terdiri dari dua orang tua beserta rata-rata 4 anak. Jadi rata-rata satu rumah dihuni oleh 6 jiwa. Berarti jumlah pintu lebih kurang 750 pintu.

Pertambahan penduduk di kota makale ini diperkirakan 2% pertahun, sehingga harus disediakan lebih kurang 15 pintu pertahun. Kenaikan hampir dikatakan tak berarti. Pertambahan yang relatif kacil ini disebabkan banyaknya pemuda yang merantau keluar daerah dan sedikit yang kembali. Survey data kenaikan ini belun pernah dilakukan.

Kondisi perumahan yang ada terbagi menjadi 3 kategori,baik, sedang dan buruk. Rumah yang ber kondisi baik jumlahnya sedikit sekali.

Insert: DAFTAR HARGA DAN UPAH DALAM KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TANA TORAJA KEADAAN BULAN JULI 1975

Analisa kota Makale.

1.Sejarah Kota.

Sejak dari pemindahan pusat pemerintah ke kota Makale pada tahun 1913, Makale sudah memperlihatkan ketepatannya sebagai ibukota dari Kabupaten Tana Toraja. Ia merupakan sebuah kota yang dikelilingi oleh bukit yang tinggi , dengan penduduk yang tidak terlalu banyak dan penempatan kantor pusat administratif yang strategis, Dan yang paling penting adalah bahwa Makale merupakan pintu gerbang dari Tana Toraja secara keseluruhan, karena dari kota inilah kita merasakan suasana dan alam Toraja

I k 1 i m.

Dari data yang didapat mengenai curah hujan dapat dikatakan bahwa iklim di kota Makale berlaku secara umum di Tana Toraja. Dengan demikian iklim tidak merupakan halangan bagi penduduk kota untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

3 . Penduduk .

3.1. Struktur : disini dapat dilihat bahwa Makale mempunyai penduduk usia muda dalam jumlah yang cukup banyak. Kenyataan ini akan memudahkan proses perkembangan kota karena mempunyai banyak tenaga yang produktip.

3.2. Agama: perbandingan antara jumlah pemeluk agama dengan jumlah bangunan ibadahnya cukup memadai dalam artikata tidak perlu lagi dibangun tempat tempat ibadah yang baru. Dengan demikian penggunaan tanah dapat dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih penting bagi proses kemajuan kota.

3.3. Mata pencaharian : ternyata penduduk kota sebagian besar menjadi pegawai negeri. Ini merupakan kenyataan yang baik, sehingga persoalan transport tidak merupakan beban yang beratbagi pemerintah Kabuaten Tana Toraja,

Adapun kebutuhan nereka sehari-hari disuplai oleh desa-desa sekitarnya. Hal ini secara tidak langsung telah mencerminkan hubungan yang erat antara Makale dengan daerah-daerah disekitarnya.

Fasilitas Umum

Pendidikan : untuk sebuah kota yang relatip kecil dan jumlah penduduk yang masih sedikit sekolah yeng aca sekarang dirasakan cukup banyak. Untuk masa 5 - 10 tahun mendatang yang perlu ditambah hanyalah sekolah-sekolah lanjutan atas dan sekolah-sekolah lanjutan atas dn sekolah-sekolah kejuruan. Dengan demikian tenaga dan keakhlian yang ada dan dihasilkan dapat langsung dipakai oleh daerah Tator sendiri.

Kesehatan, jumlah bangunan fasilitas kesehatan sudah cukup, hanya segi teknis yang menyangkut segi persyaratan bangunan yang sehat yang masih perlu di tingkatkan. Kelemahannya terletak pada tenaga medis. Jumlah dokter sebanyak 3 orang terlalu sedikit dibandingkan jumlah penduduk dan luasnya wilayah yang harus dilayani. Harus diingat bahwa dokter dokter tersebut tidak hanya melayani kota Makale saja, tetapi juga desa-desa sekelilingnya. hal ini merupakan salah satu sebab masih belum berhasilnya pemberantasan penyakit menular di Tana Toraja.

Toko, pasar dan perumahan : letak daerah pertokoan dan pasar yang berada disatu tempat membuat Makale mempunyai daerah mixed-use. Didalamnya bercampur 3 macam penggunaan pasar ditengah dikelilingi oleh bangunan-bangunan lantai, toko-toko dilantai bawah dan rumah tinggal di lantai 2. Adanya daerah mixed-use ini memberikan aksen pada kehidupan kota Makale, terutama pada hari pasar yang terjadi setiap 6 hari. Keadaan seperti ini baik untuk dipertahankan tentunya denganp perbaikan-perbaikan pada bangunan Pasarnya. Karena fungsinya sebagai kota administratif, memang tidak diperlukan terlalu banyak penginapan, Karena kota ini sebaiknya hanya berfungsi sebagai pintu gerbang saja dan tidak untuk menampung para-wisatawan. Satu bagian dari kota ini yang baik untuk dipertahankan adalah taman yang merangkap sebagai STK. Taman tersebut secara visuil merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan kantor Bupati dan kolam ditengah-tengah. Taman ini beserta kolam tadi sekaligus akan berfungsi sebagai tempat rekreasi penduduk kota Makale.

Transportasi :jumlah kendaraan yang ada Makale menunjukkan bahwa kota ini masih belum dibebani persoalan transportasi yang juga berhubungan dengan sarana jalan. Frekwensi yang padat hanya terjadi antara Makale- Rantepao, karena kedua kota itu merupakan kota-kota yang terbesar di kabupaten Tana Toraja. Tetapi harus dipikirkan juga kemungkinan bertambahnya arus wisatawan yang dating yang berarti juga peningkatan volume dan frekwensi kendaraan antara Ujung pandang- Makale- Rantepao. Harus diusahakan supaya peningkatan kegiatan tersebut tidak mengganggu ketenangan bekerja dari penduduk kota Makale, seperti dalam keadaanya sekarang. dari analisa beberapa factor yang terjadi di Makale , dapat dilihat secara garis besar hal-hal sebagai berikut:

1. kota Makale sebagai ibukota Kabupaten Tana Toraja lama kelamaan pasti berkembang. dalam perkembangan itu, yang harus diperhatikan oleh para pengusaha daerah adalah:

a. adanya pengelompokan fungsi-fungsi yang sama dalam satu daerah yang sama dalam satu kota

b. adanya aksentuasi didalam suasana kota

c. menjaga keadaan-keadan yang sekarang sudah baik, sehingga perluasan kota tidak sampai harus mengorbankan keadaan yang sudah baik tersebut.

2. Dengan cara ini, Makale akan dapat mempertahankan dirinya sebagai pintu gerbang dari tana toraja dan wibawanya sebagai ibukota kabupaten tana Toraja.

KESIMPULAN.

Dari hasil survey dan analisa diatas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang kondisi-kondisi “kota” Makale pada waktu sekarang serta kemungkinan-kemungkinan untuk perkembangan pada masa yang akan datang.


Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975
Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .
( Agus Adhi, Agus Mulia, Budiono Busyaeri, Saptono Istiawan, Diniari, Alm.Wahyu Sardono ( Dono warkop), Hedi Nursalin Silaban, Listyo Sumantri, Siti Joko, Julizar Amran Abdi, Adhika Bhayangkari, Ronald Londam Tambun, Budi Adelar Sukada, Haryono, Djoko Suryono, Andy Widjaja, Sugianto Lohanda, Azrar Hadi, Robert Lawang, Seniwono Hanifa, Prof . Dipl. Ing Suwondo BS, Prof Valerine, SH, Ir. Yan Ciptadi. Peserta tamu: alm. ibu Wancin Suwondo dan Maruto Suwondo)

Rabu, 03 Juni 2009

PARIWISATA DI TANA TORAJA DI 1975


Gambaran Umum

Tana Toraja sebagai suatu wilayah dimana tinggal suku Toraja. Sebenarnya suku Toraja ini mendiami wilayah tidak hanya di kabupaten Tana Toraja saja, tetapi sampai sebelah Timur daerah Poso yang memaakai bahasa Baree (sebagai sebutan tidak), sebelah Barat mendiami daerah sebelah Barat Palu dan sebelah Selatan mendiami daerah yang disebut Kalumpang dengan bahasa Tae (untuk menyebut kata tidak) . Disamping itu masih ada suku Toraja yang berada di daerah pantai Timur Sulawesi Tengah yaitu daerah Bungku dan kepulauan Banggai.

Tetapi yang menjadi daerah survey team kuliah kerja Arsitektur dan Sosiologi Universitas Indonesia adalah suku Toraja yang mendiami hulu sungai Sa'dan dan terutama di dae rah sekitar Makale (ibukota Tana Toraja/ untuk kemudian disebut TATOR) dan Rantepao. Tator ini merupakan daerah pegunungan yang sangat indah dengan jurang, lembah dan bukit-bukit batu yang menonjol merupakan perpaduan yang serasi dengan Adat Istiadat Kebudayaan yang khas Toraja.

Dengan ke khasan keindahan alam, kebudayaan dan adat inilah yang menjadikan Kabupaten Tana Toraja direncanakan sebagai obyek Pariwisata yang sangat menarik, sehingga dalam konferensi PATA 1974 Tator merupakan obyek Pariwisata yang menarik disamping Bali dan Toba.

Arus turis atau wisatawan dalam atau luar negeri setelah konferensi PATA ternyata semakin meningkat, dimana pada tahun 1970 cuma 21 orang tetapi pada tahun 1974 meningkat menjadi 1.552 wisatawan.

Pada tahun 1975 sampai bulan Mei tercatat 320 wisatawan (lihat statistik Tourisme 1970-1975 ). Angka yang sangat menyolok setelah PATA ini membuat semacam harapan bahwa TATOR mempunyai potensi yang cukup baik untuk berkembang rnenjadi daerah pariwisata. Dan un tuk ini jelas memerlukan studi yang lebih teliti dan mendalam.

Kalau kita melihat angka touris bulanan dalan tahun 1974 terdapat loncatan angka yang menaik dari juni hanya 29 wisatawan, Juli 273 wisatawan, Agustus menjadi 452 wisatawan dan September turun menjadi 71 wisatawan.

Rupanya bulan Juli dan Agustus bertepatan dengan musim panas di Eropah dan Amerika yang biasanya merupakan musim liburan bagi wisatawan yang berminat (lihat tabel statistik bulanan tahun 1974).

Fasilitas/Sarana.

Fasilitas yang berupa sarana perhubungan antar obyek pariwisata satu dan lainnya yang berupa jalan rupanya belum banyak mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah. Jalan yang masih buruk dan pemeliharaan obyek wisatawan yang minim, disamping sarana angkutan yang berupa bus dan kendaraan yang sangat terbatas.

Demikian pula sarana Akomodasi yang terbatas seperti penginapan, wisma, hotel masih sangat sederhana untuk memenuhi persyaratan Dengan taraf nasional dan Internasional. Hanya wisma Bharana milik Pemda Sulawesi Selatan dan Wisma Hassanuddin milik Kodam XIII di Makale dan Wisma Maria di Rantepao yang cukup memenuhi syarat.

Sarana Akomodasi di Makale ada 5:

Wisma Hassanuddin milik Kodam XIII

Wisma Bharana milik Pemda Sulsel

Wisma Yani milik Swasta

Losmen Merry milik Swasta

Losmen Martha milik Swasta

Sedang di Rantepao ada kurang lebih 10 yang tercatat:

Wisma Maria milik Swasta

Wisma Martini milik Swasta

Wisma Pola milik Swasta

Wisma Malango milik Swasta

Penginapan Missliani milik Swasta

Penginapan Sarla milik Swasta

Penginapan Tanabua milik Swasta

Penginapan Merry milik Swasta

Penginapan milik Swasta

Penginapan milik Swasta

Dengan sarana akomodasi ini TATOR tidaklah dapat memenuhi semua permintaan yang kadang bulan tertentu melampaui yang disediakan. Karena itulah timbul penginapan tidak resmi di rumah penduduk dengan rumah adat asli Toraja (Tongkonen). Biasanya touris lebih senang tinggal di rumah penduduk karena tarif permalam relatif lebih murah (dengan makan antara Rp 500,- sampai dengan_ 1.500,-). Sedangkan di wisma, hotel dan sebagainya tarip dengan makan antara Rp 3.000,- - Rp 5.000,-. Walaupun menginap di rumah penduduk sudah nendapat laranqan dari Buuati selaku pemerintah.

Tetapi dalam prakteknya ini belum bisa diawasi. Disamping itu menginap di rumah penduduk itu merupakan kekawatiran Pemda dalam hal pengaruh negatif yang mungkin timbul. Pertanyaan yang timbul apakah daerah ini sudah siap menerima wisatawan dengan segala konsekwensinya?Kabupaten Tana Toraja ini mempunyai obyek wisata yang merupakan potensi komersiel dan dapat di kembangkan. Jumlahnya sebanyak 15 buah disamping desa-desa tertentu yang mempunyai keindahan alam dan upacara adat yang menarik.

Kelima belas obyek itu ialah:

1. Salubarani terletak di km 30 dari Makale

2. Makale sendiri

3. Lemo km 8 utara

4. Tilangga km 10 utara

5. Londa km 16 utara

6. Rantepao km 18 utara

7. Ke’te km 18 timurlaut

8. Batutumonga km 50 utara

9. Lokomata km 55 utara

10. Palawa km 32 utara

11. Marante km 24 Timur laut

12. Nanggala km 30 timur laut

13. Siguntu km 16 utara

14. Makula (air panas) km 16 Tenggara

15. Bone dan Buisia km 12 utara

Di lima belas obyek wisata inilah terletak ke khasan Toraja, seperti keindahan alam di Batutumonga, kuburan batu di Lemo , kuburan gua di Londa, perkampungan asli Toraja dengan rumah-rumah adatnya( Palawa, Ke’te dan sebagainya) , pemandian air panas di Makula serta tempat souvenir yang khas Toraja disekitar Rantepao dan Kota Rantepao sendiri.

Pelaksanaan Pariwisata

Pemerintah daerah Tana Toraja sebagai koordinator melalui dinas pariwisatanya merasakan belum mendapat manfaat dari hasil pariwisata, sekalipun setiap setiap wisatawan yang masuk dan mengunjungi obyek wisata dipungut bayaran Rp. 1000,-. hasil pariwisata ini tidak ada ½% pun untuk dapat menunjang APBD Tana Toraja yang besarnya 1,3 Milyard Rupiah (1975-1976), dimana Rp 800 juta merupakan bantuan pusat dan Rp 500 juta hasil pendapatan daerah.Dari sini bisa dinilai dan dimengerti mengapa pemerintah daerah masih sangat membatasi dan memperbaiki sarana dan fasilitas pariwisata, karena memang kemampuan Tator yang sangat terbatas, disamping belum merasakan manfaatnya. Tetapi jelas Tator ini mempunyai potensi pariwisata yang bisa berkembang.

Di dalam kebijaksanaan pemda Tator juga disamping prioritas utama pengembangan desa dan pertanian juga direncanakan pengembangan pariwisata yang akan disiapkan dengan bantuan Ditjen Pariwisata dan Pemerintah Pusat, dan sampai sekarang Pemda masih melakukan pembatasan yang ketat karena kekhawatiran akan akibat-akibat negatip dari derasnya arus tourisme.

Ada beberapa Travel Biro yang mengusahakan arus wisstawan mengalir ke Tana Toraja antara lain :

1. Travel Biro Pacto.

2. Travel Biro Universal

3. Travel Biro Nitour

4. Travel Biro Tunas Indonesia

5. Travel Biro Cinta Karya (Ujung Pandang).

Dalam rombongan kecil Travel Biro ini sering mengantar orang 4 sampai 8 orang perbulan, dan informasi yang dapat diperoleh untuk bulan ini akan dating 127 turis (22 September’75) bertepatan dengandiadakannya upacara di Ke’te, Pesu dan Ba’tan.

Masalah yanq timbul dari Pariwisata.

Upacara khas Toraja yang nerupakan percerminan asli Adat Kebudayaan Tator, adalah upacara Rambo Solo’ (Asap menurun) yang merupakan upacara duka/sedih seperti upacara kematian. Sedang upacara Rambu Tuka’ (Asap menaik) adalah upacara kegembiraan/suka seperti upacara Ma’ Bugi yang dilakukan setelah upacara panen padi sebagai upacara syukur pada dewa-dewa dengan tari-tarian yang disebut Tari Pagelo’.

Dua jenis upacara ini yang paling menarik minat para turis untuk datang ke Tator tetapi yang menarik sekali adalah upacara kematian seorang Puang di Makale (bangsawan) atau Tomakaka di Rantepao yang sampai memakan waktu berhari-hari, dengan pesta besar-besaran bisa memotong ternak sampai 600 ekor babi dan 200 ekor kerbau.

Penyelenggaraan pesta tradisionil ini bisa memakan biaya berjuta-juta rupiah, hal ini merupakan satu kontradiksi dengan keadaan nyata masyarakat Tator yang relatip masih rendah taraf hidup dan dan kemampuannya.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa upacara-upacara itu bisa digolongkan sesuatu yang tidak produktip dan pemborosan yang sangat merugikan. Walaupun semua biaya dipikul secara gotong royong oleh masyarakat.

Ini jelas merupakan suatu masalah yang perlu dipikirkan, karena merupakan keadaan yang bertolak belakang. Disatu pihak Pemda ingin memajukan kehidupan rakyat dengan keluar dari tradisi yang merugikan dan tidak produktip, dilain pihak ada semacam keinginan agar terpeliharanya upacara tersebut dengan maksud komersil dan untuk dapat menarik wisatawan ke Tator yang mempunyai ke khasan itu.

Masalah lain yang masih memerlukan study yang lebih mandalam acalah apakah bidang Pariwata ini bisa dijadikan sektor yang produktif sebagai sumber dana sehingga bisa menunjang kelancaran sektor-sektor lain?.

Kemudian apakah sektor ini bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas Tana Toraja dan bukan hanya sebagian kecil pemilik modal yang bisa membuat Hotel, Restaurant, atau Toko-toko souvenir saja?.

Dalam pengamatan kami memang di obyek pariwisata ini tidak terdapat rakyat kecil yang menjajakan makanan, minuman atau souvenir yang khas Toraja, itu semua hanya bisa ditemui di took dan Restaurant Makale atau Rantepao dan bukan di desa dimana terdapat obyek Pariwisata atau upacara-upacara adat diadakan dan melihat upacara-upacara adat pun tidak dipungut bayaran alias gratis bagi para Turis. Hal ini jelas sangat merugikan.

Akhirnya yang menjadi kekawatiran mendalam adalah :

Jangan sampai masyarakat Tator ini atau Bangsa Indonesia umumnya hanya menjadi tontonan para Touris asing yang selalu menghendaki keaslian dan kekhasan kebudayaan, dengan membiarkan bangsa kita khususn'ya masyarakat Toraja ini terus menerus dan tetap tenggelam dalam alam tradisi serta adat yang merugikan .

Sebab hal tersebut jelas bertentanqan dengan tujuan Bangsa Indonesia, yang ingin mensejahterakan Bangsanya dan mencerdaskan serta memajukan kehidupan bangsa.

Karenanya pengembangan dunia pariwisata perlu dipikirkan masak-masak dan disesuaikan dengan kondisi situasi daerah dengan diadakan study dasar yang mendalam untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata dan kemampuan masyarakat sebenarnya.

Penutup.

Dilihat dari kekhasan keindahan alam, Adat Istiadat, dan Kebudayaan Tana Toraja ini memang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sektor Pariwisstanya.

Namun pengembangannya perlu dipikirkan dan direncanakan secara lebih teliti sesuai dengan tujuan bernegara dan bermasyarakat.

Semua ini jelas mengundang Pemerintah pusat untuk bisa ikut membantu/ terutama dalam fasilitas dan sarana jalan dan transportasi dalam pengembangan Pariwisata.

Gambaran dasar hasil penelitian ini jelas tidak berpretensi untuk bisa mewakili masalah Pariwisata seluruhnya di Tana Toraja namun setidaknya bisa merupakan gambaran awal untuk bisa dilanjutkan dengan study secara mendalam dan teliti dikemudian hari.

Masalah Pariwisata:

Sarana jalan.

Jalan-jalan raya yang menuju obyek obyek wisata umumnya dalam kondisi jelek. hal ini tentunya menghambat mekanisme perekonomian dan transportasi penduduk setempat.


Penginapan.

Sebaiknya tetap dipertahankan lokasinya berada dikota Makale dan Rantepao saja, karena hal ini membantu mengurangi pengaruh negatif yang mungkin timbul dari wisatawan asing khususnya.

Restaurant , Toko Souvenir.

Restaurant yang memadai kurang banyak, terutama yang berlokasi dikota. Toko souvenir cukup memadi di kta rantepao, hanya berlokasi ditempat wisata perlu dibuat tempat khusus sehinga tidak mengganggu obyek wisatanya.


Transportasi.

Untuk menuju ke obyek2 wisata perlu disediakan kendaraan. Tidak perlu setiap hari, tapi cukup padfa hari tertentu saja. Hal ini akan memudahkan wisatawan yang datang tidak dengan rombongan.


Obyek-obyek wisata.


Untuk obyek hidup seperti upacara kematian dan sebagainya, sebaiknya ruang gerak wisatawan asing dibatasi. Hal ini untuk menjaga keutuhan kebudayaan Toraja dari pengaruh negatif yang mungkin timbul. Sebab dalam upacara biasanya terjadi kontak langsung dengan penduduk.


Bagi obyek wisata yang baik, yang hidup maupun yang statis ( kuburan batu) perlu disediakan guide untuk memberikan penjelasan-penjelasan.



Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975
Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .
( Agus Adhi, Agus Mulia, Budiono Busyaeri, Saptono Istiawan, Diniari, Alm.Wahyu Sardono ( Dono warkop), Hedi Nursalin Silaban, Listyo Sumantri, Siti Joko, Julizar Amran Abdi, Adhika Bhayangkari, Ronald Londam Tambun, Budi Adelar Sukada, Haryono, Djoko Suryono, Andy Widjaja, Sugianto Lohanda, Azrar Hadi, Robert Lawang, Seniwono Hanifa, Prof . Dipl. Ing Suwondo BS, Prof Valerine, SH, Ir. Yan Ciptadi. Peserta tamu: alm. ibu Wancin Suwondo dan Maruto Suwondo)

MENGENAI KULIAH KERJA TORAJA FAKULTAS TEKNIK- FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 1975




LATAR BELAKANG:

1. Kuliah Kerja adalah bagian yang integral dari kurikulum pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Program ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap mahasiswa yang sudah duduk di tingkat III. Tidak seperti kurikulum yang lain, kuliah kerja dilakukan langsung di lapangan, Kuliah kerja juga harus dibedakan dengan pengertian kerja praktek dimana mahasiswa banyak belajar hal-hal yang bersifat praktis. Dalam kuliah kerja mahasiswa belajar melalui :
- pengamatan/penghayatan terhadap obyek - analisa
- pengukuran, sketsa, wawancara - kesimpulan
- diskusi
Dengan tahapan2 ini mahasiswa dibawa untuk melihat dan berfikir tentang lingkungan hidup yg sudah ada, dimulai dari proses terjadi sampai kemungkinan pengembangannya. Kuliah kerja di-harapkan dapat memberikan penghayatan akan suatu lingkungan hidup dengan masalahanya, terutama kebutuhan akan ruang.

2. Tana Toraja merupakan suatu lingkungan hidup dimana tinggal suku Toraja. Sejak lama kita tahu bahwa disana banyak hal yang menarik & khas. Hingga Tana Toraja merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia. Kebudayaan suku Toraja setelah sekian lama berjalan, membuahkan hasil yang khas. Kekhasan itu tidak saja terletak pada hakekatnya sen-diri, tetapi juga pada bagaimana suku Toraja dapat mempertahankan nilai2 budayanya dalam abad modern ini, Salah satu hasil kebudayaan suku Toraja ialah rumah adatnya. hal yang menarik untuk dipelajari padanya.
Mulai dari bagaimana pertama kali suku Toraja memenuhi kebutuhannya akan ruang sampai akhirnya terbentuk rumah adat yang demikian unik & khas.
Atas pertimbangan itu rumah adat Toraja dijadikan salah satu bagian dari obyek kuliah kerja ini, disamping lingkungan hidupnya yang menjadi obyek pokok.
3. Untuk mencapai hasil yang lengkap dan seimbang kuliah kerja ini mempelajari lingkungan secara sosiologis. Arsitektur sebagai cermin suatu kebudayaan sudah sepantasnya amati pula oleh para sosiolog. Dalam realisasinya diadakan kerjasama interdisipliner dengan mahasiswa2 jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu-ilirm Sosial Universitas Indonesia. Begitu juga jalan dengan kerjasama itu ditandatangani suatu bentuk kerjasama dengan Direktorat Tata Kota & Daerah Departemen PUTL. Kerjasama tersebut menyangkut bantuan untuk mencari data-data dalam rangka pengembangan daerah Sulawesi umumnya dan Tana Toraja khususnya melalui sektor pariwisata.
4. Kuliah kerja mahasiswa Arsitektur 1975 ke Tana Toraja dapat terlaksana adanya pengerahan pikiran dan dana yang besar. Semua ini dicapai baik dengan kerjasama antara unsur2 Universitas Indonesia maupun berkat bantuan berbagai pihak di luar Universitas, baik di Jakarta maupun di Toraja. Panitia Kuliah Kerja Toraja 1975 cukup menyadari bahwa tanpa adanya bantuan bantuan itu, kuliah kerja ini sukar kemungkinannya untuk terlaksana. Sehubungan dengan itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang besar kepada semua pihak yang telah membantu. Mudah2-an hubungan yang sudah terjalin dapat terpelihara untuk masa mendatang. Akhirnya harapan kami semoga hasil kuliah kerja Toraja 1975 ini akan berguna be mahasiswa, bangsa, dan negara.

UCAPAN TERIMA KASIH:

Presiden RI Haji Muhammad Suharto
Direktorat Tata Kota & Daerah Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen PUTL.
BINA GRAHA.
Bapak Letnan Jenderal A.J. PITONO
 SESDALOBANG bp. Bardosono.
 Gubernur KDH I Sulawesi Selatan Prof. DR. Amirudin.
Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tana Toraja, Bapak A.Y. ANDI LOLO
Ibu Profesor P.O. Ichromi
Bapak Drs. Sulaiman
Bapak Kila B.A.
Staff Pemda Kabupaten Tana Toraja
Masyarakat Tana Toraja
Badan Urusan Logistik  Bustanil Arifin
P.T. Perrbangunan Jaya
P.T. Perencana Jaya
P.T. Widya Pertiwi Engineering
P.T. Kimia Farma
Merpati Nusantara Airlines
Direktorat Jenderal Pajak
Direktorat Jenderal Bea & Cukai
P.T. Ideco Utama
dan Semua pihak yang telah turut membantu



PESERTA:



Agus Adhi,
Agus Mulia,
Budiono Busyaeri,
Rosa Diniari,
Alm.Wahyu Sardono,
Hedi Nursalin Silaban,
Listyo Sumantri,
Siti Joko,
Julizar Amran Abdi,

Adhika Bhayangkari,
Ronald Londam Tambun,
Budi Adelar Sukada,
Haryono,
Djoko Suryono,
Andy Widjaja,

Sugianto Lohanda,
Azrar Hadi,
Robert Lawang,
Saptono Istiawan,
Seniwono Hanifa,

DOSEN PEMBIMBING :

Prof . Dipl. Ing Suwondo BS,
Prof Valerine, SH,
Ir. Yan Ciptadi.


Peserta tamu:

alm. ibu Wancin Suwondo
dan Maruto Suwondo