
Dikutip dari ;Laporan Kuliah Kerja Toraja 1975
Mahasiswa : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Ilmu Sosial Universitas Indonesia .

.jpg)
Sekalipun kota Makale tidak mempunyai suasana yang baik untuk perkembangan sebuah kota, tetapi kemungkinan perkembangan itu tetap ada.
Ditinjau dari segi jumlah penduduk, bermacam-macamnya ras (golongan), lapangan kerja , dinamika tingkatan hidup, maka ciri sebuah kota belum tercermin di Makale.
Pengamatan sepintas yang dilakukan selama 5 hari sebenarnya belum cukup untuk suatu studi perkotaan. Tetapi seorang arsitek perkotaan terkenal merpunyai semboyan “ Observation is prime tool to urban design". Sehingga studi kota Makale ini secara positif bisa diwujudkan dengan titik tolak pengamatan ini.
Maksud dari studi kota Makale ini supaya kita dapat nengusulkan perencanaan segala aktifitas manusia dan hubungan antar aktifitasnya di "kota" ini.
Survey kota Makale,
Sejarah dan latar belakang.
Ibu kota Kabupaten Tana Toraja adalah kota Makale, Ditetapkannya Makale sebagai ibu kota Kabupaten mempunyai sejarah sebagai berikut :
Pada tahun 1907 Belanda memasuki Tana Toraja, pada saat itu pemerintah Belanda memilih Rantepao sebagai pusat pemerintahan. Kota Makale hanya merupakan tempat tinggal Gubernur.
Pada tahun 1913 di Rantepao timbul pemberontakan, sehingga berdasarkan letak yang strategis dan lebih dekat ke Makasar, maka pusat pemerintahan dipindah ke Makale. Pemindahan ini berlaku hingga sekarang dan Makale tetap merupakan ibukota Kabupaten Tana Toraja.
Berdasakan keadaan pada saat ini dimana pusat pemerintahan ada di Makale, tetapi kota Makale kenyataannya lebih kecil dari kota Rantepao. Keadaan ini mencerminkan perkembangan kota Makale yang lambat. Hal ini disebabkan faktor adat juga karena pertimbangan pembangunan lebih ditekankan di desa-desa. Sekalipun begitu, karena secara administratif merupakan pusat pusat maka Makale mencoba memberikan tanda-tanda bahwa disitulah adanya. Ini dicoba dicapai dengan digunakannya bekas rumah pada pemerintahan Belanda yang letaknya cukup strategis menghadapi kolam dan ditengah-tengah kota.
Iklim
Makale terletak didataran yang tinggi dengan udara yang sejuk dan segar. Curah hujan dan banyaknya hujan adalah sebagai berikut (curah hujan /banyak hujan perbulan /hari):
Januari 226,995/ 13
Februari 244,95 /11,6
Maret 285,35/ 12,7
April 270,6 /13,3
Mei 220,1/12,4
Juni 157,5 /9,8
Juli 81,97/ 7,3
Agustus 120,9 /7,4
September 98,35/ 5,8
Oktober 117,35/ 6,9
Nopember 158,855/ 9,8
Desember 240,5 / 11,6
Penduduk:
Jumlah penduduk Makale adalah 4399 orang ditambah 42 warga negara asing, dengan perincian sebagai berikut( Laki/ Perempuan/ Warga Negara Asing):
0-4 tahun L 382/P 353 WNA : 6/4
5-14 tahun 526/637 8/4
15-24 tahun 765/666 7/3
25 keatas 367/702 5/5
Agama
Sebagian besar penduduk beragama Protestan dan yang lainnya beragama Katholik, Islam dan Alukta.
Jumlah rumah Ibadah :
Gereja 4 buah, Mesjid 2 buah
Mata Pencaharian:
Mayoritas penduduk menjadi pegawai negeri. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan peranan kota Makale sabagai pusat pererintahan Kabupaten. Yang lain merupakan penduduk yang menjadi petani, berkebun atau berdagang.
4. Fasilitas Umum.
Pendidikan. Jumlah Sekolah di kota makale dengan perinciannya adalah sebagai berikut:
Sekolah Dasar (SD) : 25 buah
Sekolah Menengah Pertama (SMP) : 3 buah
Sekolah Teknik Negeri : 1 buah
SKKA : 1 buah
SMA : 2 buah
STM : 2 buah
SMEA : 1 buah
SPG : 1 buah
PGA : 1 buah
Kesehatan:
Dikota yang berpenduduk hampir 5.000 ini mempunyai tenaga dokter hanya 3 orang. Ketiga dokter ini melayani penduduk melalui fasilitas-fasilitas kesehatan yang macan-macam dan jumlah_ ialah sebagai berikut:
-Rumah Sakit : 2 buah
-Balai pengobatan : 2 buah
-B.K.I.A : 5 buah
-R.S. Bersalin : 3 buah
Toko dan pasar.
Dikota makale terdapat hanya satu ( satu) pasar, itupun cuma diadakan seminggu sekali.
Hotel, Losmen, Wisma, Penginapan dan Restauran.
Di kota Makale jumlah fasilitas untuk wisatawan ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kota Rantepao. Mungkin ini karena pusat atau tempat-tempat wisata berada disekitar Rantepao .
Sekalipun begitu disini masih terdapat losmen dan wisma sekalipun ada yang letaknya agak diluar kota. Tentang restauran dapat dikatakan tidak ada. Yang ada hanya berupa warung atau kedai kecil.
Adapun jumlah losmen dan wisma di Makale adalah sebagai berikut :
-Wisma Yani milik swasta
-Wisma Bharana milik Pemda Sulsel
-Losmen Merry milik swasta
-Losmen Martha milik swasta
Fasilitas untuk rekreasi,
Kota makale sebetulnya susah untuk dikatakan sebagai sebuah kota. Karena selain ukurannya kecil juga penduduknya sedikit. Lagi pula fasilitas untuk rekreasi hampir dikatakan tidak ada. Ditengah kota ada semacam taman yang rupan juga berfungsi sebagai STK,
Faslitas khusus penyediaan bahan bangunan.
Pada umumnya bahan-bahan bangunan banyak dihasilkan di daerah ini, tetapi berhubung kwalitasnya kurang baik terpaksa sebagian didatangkan dari Palopo atau Ujung Pandang.
Bahan-bahan mentah untuk dibuat bahan bangunan sebenarnya cukup banyak cuma biasanya terbentur pada masalah pengolahannya yang kurang sempurna. Berikut ini akan diuraikan tentang penyediaan bahan bangunan menurut penggunaan & tempatnya :
Bahan pondasi
Batu kapur : banyak terdapat dibukit-bukit kapur disekeliling Makale
Semen : merek Tonasa dari Ujung Pandang.
Pasir : dari sungai Maulu.
batu : dipakai batu gunung yang banyak terdapat dimana-mana
Bahan lantai :
Semen : ex Tonasa, ex Philipina
Papan : jenis Uru (Kualitas 2) banyak di daerh Makale.
Tegel/ubin : didatangkan dari Ujung Pandang dan masih sangat jarang dipakai pada
bangunan pribadi.
Bahan dinding:
Kayu : Kalapi ( kualitas 1) dari Palopo, kayu Uru (kwalitas 2) dari Tator.
Bata : Produksi setempat yang hanya digunakan untuk bangunan-bangunan umum seperti halnya tegel.
Bambu : banyak terdapat disekitar Makale.
Bahan bahan lain
Atap : selain bambu atap sekarang memakai seng yang didatangkan dari Ujung Pandang. Sirap dari Kalimantan. genteng hasil produksi setempat.
Pasir beton : dari sungai Maulu.
Kayu bekisting : dipakai kayu jenis Nato, Bakan ( kwalitas 3) yang banyak didapat disini.
Cat : selain cat yang merupakan hasil dari rakyat (untuk cat ukiran), juga ada cat minyak dan kebanyakan merek ex Glotex.
Paku : toko-toko juga mulai menjual bahan ini mengingat kebutuhan.
Rotan : banyak didapat disekitar perbatasan
Luwu & Tator.
Alat sanitair : didatangkan dari Ujung Pandang.
Fasilitas angkutan.
Untuk lintas Ujung Pandang - Makale - Rantepao tersedia sarana angkutan darat yang berupa bis dan microbus dan bis-bis ini mulai trayeknya pada pagi dan malam hari. Angkutan laut dan udara tidak ada, begitu juga dengan kereta api. Untuk trayek antar lingkungan tersedia Colt yang bentuknya dibikin bentuk microbus. Sarana angkutan dalam kota tidak ada karena kecilnya ruang lingkup kota.
Adapun jumlah bis dan microbus menurut trayeknya:
Ujung Pandang- Makale- Rantepao: 16 buah bis Ujung Pandang - Makale - Rantepao - Palopo 4 buah bis. Jumlah Colt susah dihitung pada satu tempat mengingat trayeknya tak tentu tergantung di-pasar pada saat itu.
Perumahan.
Denagan penduduk lebih kurang 4.500 orang dapat diperkirakan jumlah pintu di kota Makale. Dari pengamatan satu rumah dihuni oleh satu keluarga yang terdiri dari dua orang tua beserta rata-rata 4 anak. Jadi rata-rata satu rumah dihuni oleh 6 jiwa. Berarti jumlah pintu lebih kurang 750 pintu.
Pertambahan penduduk di kota makale ini diperkirakan 2% pertahun, sehingga harus disediakan lebih kurang 15 pintu pertahun. Kenaikan hampir dikatakan tak berarti. Pertambahan yang relatif kacil ini disebabkan banyaknya pemuda yang merantau keluar daerah dan sedikit yang kembali. Survey data kenaikan ini belun pernah dilakukan.
Kondisi perumahan yang ada terbagi menjadi 3 kategori,baik, sedang dan buruk. Rumah yang ber kondisi baik jumlahnya sedikit sekali.
Insert: DAFTAR HARGA DAN UPAH DALAM KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TANA TORAJA KEADAAN BULAN JULI 1975
Analisa kota Makale.
1.Sejarah Kota.
Sejak dari pemindahan pusat pemerintah ke kota Makale pada tahun 1913, Makale sudah memperlihatkan ketepatannya sebagai ibukota dari Kabupaten Tana Toraja. Ia merupakan sebuah kota yang dikelilingi oleh bukit yang tinggi , dengan penduduk yang tidak terlalu banyak dan penempatan kantor pusat administratif yang strategis, Dan yang paling penting adalah bahwa Makale merupakan pintu gerbang dari Tana Toraja secara keseluruhan, karena dari kota inilah kita merasakan suasana dan alam Toraja
I k 1 i m.
Dari data yang didapat mengenai curah hujan dapat dikatakan bahwa iklim di kota Makale berlaku secara umum di Tana Toraja. Dengan demikian iklim tidak merupakan halangan bagi penduduk kota untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
3 . Penduduk .
3.1. Struktur : disini dapat dilihat bahwa Makale mempunyai penduduk usia muda dalam jumlah yang cukup banyak. Kenyataan ini akan memudahkan proses perkembangan kota karena mempunyai banyak tenaga yang produktip.
3.2. Agama: perbandingan antara jumlah pemeluk agama dengan jumlah bangunan ibadahnya cukup memadai dalam artikata tidak perlu lagi dibangun tempat tempat ibadah yang baru. Dengan demikian penggunaan tanah dapat dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih penting bagi proses kemajuan kota.
3.3. Mata pencaharian : ternyata penduduk kota sebagian besar menjadi pegawai negeri. Ini merupakan kenyataan yang baik, sehingga persoalan transport tidak merupakan beban yang beratbagi pemerintah Kabuaten Tana Toraja,
Adapun kebutuhan nereka sehari-hari disuplai oleh desa-desa sekitarnya. Hal ini secara tidak langsung telah mencerminkan hubungan yang erat antara Makale dengan daerah-daerah disekitarnya.
Fasilitas Umum
Pendidikan : untuk sebuah kota yang relatip kecil dan jumlah penduduk yang masih sedikit sekolah yeng aca sekarang dirasakan cukup banyak. Untuk masa 5 - 10 tahun mendatang yang perlu ditambah hanyalah sekolah-sekolah lanjutan atas dan sekolah-sekolah lanjutan atas dn sekolah-sekolah kejuruan. Dengan demikian tenaga dan keakhlian yang ada dan dihasilkan dapat langsung dipakai oleh daerah Tator sendiri.
Kesehatan, jumlah bangunan fasilitas kesehatan sudah cukup, hanya segi teknis yang menyangkut segi persyaratan bangunan yang sehat yang masih perlu di tingkatkan. Kelemahannya terletak pada tenaga medis. Jumlah dokter sebanyak 3 orang terlalu sedikit dibandingkan jumlah penduduk dan luasnya wilayah yang harus dilayani. Harus diingat bahwa dokter dokter tersebut tidak hanya melayani kota Makale saja, tetapi juga desa-desa sekelilingnya. hal ini merupakan salah satu sebab masih belum berhasilnya pemberantasan penyakit menular di Tana Toraja.
Toko, pasar dan perumahan : letak daerah pertokoan dan pasar yang berada disatu tempat membuat Makale mempunyai daerah mixed-use. Didalamnya bercampur 3 macam penggunaan pasar ditengah dikelilingi oleh bangunan-bangunan lantai, toko-toko dilantai bawah dan rumah tinggal di lantai 2. Adanya daerah mixed-use ini memberikan aksen pada kehidupan kota Makale, terutama pada hari pasar yang terjadi setiap 6 hari. Keadaan seperti ini baik untuk dipertahankan tentunya denganp perbaikan-perbaikan pada bangunan Pasarnya. Karena fungsinya sebagai kota administratif, memang tidak diperlukan terlalu banyak penginapan, Karena kota ini sebaiknya hanya berfungsi sebagai pintu gerbang saja dan tidak untuk menampung para-wisatawan. Satu bagian dari kota ini yang baik untuk dipertahankan adalah taman yang merangkap sebagai STK. Taman tersebut secara visuil merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan kantor Bupati dan kolam ditengah-tengah. Taman ini beserta kolam tadi sekaligus akan berfungsi sebagai tempat rekreasi penduduk kota Makale.
Transportasi :jumlah kendaraan yang ada Makale menunjukkan bahwa kota ini masih belum dibebani persoalan transportasi yang juga berhubungan dengan sarana jalan. Frekwensi yang padat hanya terjadi antara Makale- Rantepao, karena kedua kota itu merupakan kota-kota yang terbesar di kabupaten Tana Toraja. Tetapi harus dipikirkan juga kemungkinan bertambahnya arus wisatawan yang dating yang berarti juga peningkatan volume dan frekwensi kendaraan antara Ujung pandang- Makale- Rantepao. Harus diusahakan supaya peningkatan kegiatan tersebut tidak mengganggu ketenangan bekerja dari penduduk kota Makale, seperti dalam keadaanya sekarang. dari analisa beberapa factor yang terjadi di Makale , dapat dilihat secara garis besar hal-hal sebagai berikut:
1. kota Makale sebagai ibukota Kabupaten Tana Toraja lama kelamaan pasti berkembang. dalam perkembangan itu, yang harus diperhatikan oleh para pengusaha daerah adalah:
a. adanya pengelompokan fungsi-fungsi yang sama dalam satu daerah yang sama dalam satu kota
b. adanya aksentuasi didalam suasana kota
c. menjaga keadaan-keadan yang sekarang sudah baik, sehingga perluasan kota tidak sampai harus mengorbankan keadaan yang sudah baik tersebut.
2. Dengan cara ini, Makale akan dapat mempertahankan dirinya sebagai pintu gerbang dari tana toraja dan wibawanya sebagai ibukota kabupaten tana Toraja.
KESIMPULAN.
Dari hasil survey dan analisa diatas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang kondisi-kondisi “kota” Makale pada waktu sekarang serta kemungkinan-kemungkinan untuk perkembangan pada masa yang akan datang.

Gambaran Umum
Tana Toraja sebagai suatu wilayah dimana tinggal suku Toraja. Sebenarnya suku Toraja ini mendiami wilayah tidak hanya di kabupaten Tana Toraja saja, tetapi sampai sebelah Timur daerah Poso yang memaakai bahasa Baree (sebagai sebutan tidak), sebelah Barat mendiami daerah sebelah Barat Palu dan sebelah Selatan mendiami daerah yang disebut Kalumpang dengan bahasa Tae (untuk menyebut kata tidak) . Disamping itu masih ada suku Toraja yang berada di daerah pantai Timur Sulawesi Tengah yaitu daerah Bungku dan kepulauan Banggai.
Tetapi yang menjadi daerah survey team kuliah kerja Arsitektur dan Sosiologi Universitas Indonesia adalah suku Toraja yang mendiami hulu sungai Sa'dan dan terutama di dae rah sekitar Makale (ibukota Tana Toraja/ untuk kemudian disebut TATOR) dan Rantepao. Tator ini merupakan daerah pegunungan yang sangat indah dengan jurang, lembah dan bukit-bukit batu yang menonjol merupakan perpaduan yang serasi dengan Adat Istiadat Kebudayaan yang khas Toraja.
Dengan ke khasan keindahan alam, kebudayaan dan adat inilah yang menjadikan Kabupaten Tana Toraja direncanakan sebagai obyek Pariwisata yang sangat menarik, sehingga dalam konferensi PATA 1974 Tator merupakan obyek Pariwisata yang menarik disamping Bali dan Toba.
Arus turis atau wisatawan dalam atau luar negeri setelah konferensi PATA ternyata semakin meningkat, dimana pada tahun 1970 cuma 21 orang tetapi pada tahun 1974 meningkat menjadi 1.552 wisatawan.
Pada tahun 1975 sampai bulan Mei tercatat 320 wisatawan (lihat statistik Tourisme 1970-1975 ). Angka yang sangat menyolok setelah PATA ini membuat semacam harapan bahwa TATOR mempunyai potensi yang cukup baik untuk berkembang rnenjadi daerah pariwisata. Dan un tuk ini jelas memerlukan studi yang lebih teliti dan mendalam.
Kalau kita melihat angka touris bulanan dalan tahun 1974 terdapat loncatan angka yang menaik dari juni hanya 29 wisatawan, Juli 273 wisatawan, Agustus menjadi 452 wisatawan dan September turun menjadi 71 wisatawan.
Rupanya bulan Juli dan Agustus bertepatan dengan musim panas di Eropah dan Amerika yang biasanya merupakan musim liburan bagi wisatawan yang berminat (lihat tabel statistik bulanan tahun 1974).
Fasilitas/Sarana.
Fasilitas yang berupa sarana perhubungan antar obyek pariwisata satu dan lainnya yang berupa jalan rupanya belum banyak mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah. Jalan yang masih buruk dan pemeliharaan obyek wisatawan yang minim, disamping sarana angkutan yang berupa bus dan kendaraan yang sangat terbatas.
Demikian pula sarana Akomodasi yang terbatas seperti penginapan, wisma, hotel masih sangat sederhana untuk memenuhi persyaratan Dengan taraf nasional dan Internasional. Hanya wisma Bharana milik Pemda Sulawesi Selatan dan Wisma Hassanuddin milik Kodam XIII di Makale dan Wisma Maria di Rantepao yang cukup memenuhi syarat.
Sarana Akomodasi di Makale ada 5:
Wisma Hassanuddin milik Kodam XIII
Wisma Bharana milik Pemda Sulsel
Wisma Yani milik Swasta
Losmen Merry milik Swasta
Losmen Martha milik Swasta
Sedang di Rantepao ada kurang lebih 10 yang tercatat:
Wisma Maria milik Swasta
Wisma Martini milik Swasta
Wisma Pola milik Swasta
Wisma Malango milik Swasta
Penginapan Missliani milik Swasta
Penginapan Sarla milik Swasta
Penginapan Tanabua milik Swasta
Penginapan Merry milik Swasta
Penginapan milik Swasta
Penginapan milik Swasta
Dengan sarana akomodasi ini TATOR tidaklah dapat memenuhi semua permintaan yang kadang bulan tertentu melampaui yang disediakan. Karena itulah timbul penginapan tidak resmi di rumah penduduk dengan rumah adat asli Toraja (Tongkonen). Biasanya touris lebih senang tinggal di rumah penduduk karena tarif permalam relatif lebih murah (dengan makan antara Rp 500,- sampai dengan_ 1.500,-). Sedangkan di wisma, hotel dan sebagainya tarip dengan makan antara Rp 3.000,- - Rp 5.000,-. Walaupun menginap di rumah penduduk sudah nendapat laranqan dari Buuati selaku pemerintah.
Tetapi dalam prakteknya ini belum bisa diawasi. Disamping itu menginap di rumah penduduk itu merupakan kekawatiran Pemda dalam hal pengaruh negatif yang mungkin timbul. Pertanyaan yang timbul apakah daerah ini sudah siap menerima wisatawan dengan segala konsekwensinya?Kabupaten Tana Toraja ini mempunyai obyek wisata yang merupakan potensi komersiel dan dapat di kembangkan. Jumlahnya sebanyak 15 buah disamping desa-desa tertentu yang mempunyai keindahan alam dan upacara adat yang menarik.
Kelima belas obyek itu ialah:
1. Salubarani terletak di km 30 dari Makale
2. Makale sendiri
3. Lemo km 8 utara
4. Tilangga km 10 utara
5. Londa km 16 utara
6. Rantepao km 18 utara
7. Ke’te km 18 timurlaut
8. Batutumonga km 50 utara
9. Lokomata km 55 utara
10. Palawa km 32 utara
11. Marante km 24 Timur laut
12. Nanggala km 30 timur laut
13. Siguntu km 16 utara
14. Makula (air panas) km 16 Tenggara
15. Bone dan Buisia km 12 utara
Di lima belas obyek wisata inilah terletak ke khasan Toraja, seperti keindahan alam di Batutumonga, kuburan batu di Lemo , kuburan gua di Londa, perkampungan asli Toraja dengan rumah-rumah adatnya( Palawa, Ke’te dan sebagainya) , pemandian air panas di Makula serta tempat souvenir yang khas Toraja disekitar Rantepao dan Kota Rantepao sendiri.
Pelaksanaan Pariwisata
Pemerintah daerah Tana Toraja sebagai koordinator melalui dinas pariwisatanya merasakan belum mendapat manfaat dari hasil pariwisata, sekalipun setiap setiap wisatawan yang masuk dan mengunjungi obyek wisata dipungut bayaran Rp. 1000,-. hasil pariwisata ini tidak ada ½% pun untuk dapat menunjang APBD Tana Toraja yang besarnya 1,3 Milyard Rupiah (1975-1976), dimana Rp 800 juta merupakan bantuan pusat dan Rp 500 juta hasil pendapatan daerah.Dari sini bisa dinilai dan dimengerti mengapa pemerintah daerah masih sangat membatasi dan memperbaiki sarana dan fasilitas pariwisata, karena memang kemampuan Tator yang sangat terbatas, disamping belum merasakan manfaatnya. Tetapi jelas Tator ini mempunyai potensi pariwisata yang bisa berkembang.
Di dalam kebijaksanaan pemda Tator juga disamping prioritas utama pengembangan desa dan pertanian juga direncanakan pengembangan pariwisata yang akan disiapkan dengan bantuan Ditjen Pariwisata dan Pemerintah Pusat, dan sampai sekarang Pemda masih melakukan pembatasan yang ketat karena kekhawatiran akan akibat-akibat negatip dari derasnya arus tourisme.
Ada beberapa Travel Biro yang mengusahakan arus wisstawan mengalir ke Tana Toraja antara lain :
1. Travel Biro Pacto.
2. Travel Biro Universal
3. Travel Biro Nitour
4. Travel Biro Tunas Indonesia
5. Travel Biro Cinta Karya (Ujung Pandang).
Dalam rombongan kecil Travel Biro ini sering mengantar orang 4 sampai 8 orang perbulan, dan informasi yang dapat diperoleh untuk bulan ini akan dating 127 turis (22 September’75) bertepatan dengandiadakannya upacara di Ke’te, Pesu dan Ba’tan.
Masalah yanq timbul dari Pariwisata.
Upacara khas Toraja yang nerupakan percerminan asli Adat Kebudayaan Tator, adalah upacara Rambo Solo’ (Asap menurun) yang merupakan upacara duka/sedih seperti upacara kematian. Sedang upacara Rambu Tuka’ (Asap menaik) adalah upacara kegembiraan/suka seperti upacara Ma’ Bugi yang dilakukan setelah upacara panen padi sebagai upacara syukur pada dewa-dewa dengan tari-tarian yang disebut Tari Pagelo’.
Dua jenis upacara ini yang paling menarik minat para turis untuk datang ke Tator tetapi yang menarik sekali adalah upacara kematian seorang Puang di Makale (bangsawan) atau Tomakaka di Rantepao yang sampai memakan waktu berhari-hari, dengan pesta besar-besaran bisa memotong ternak sampai 600 ekor babi dan 200 ekor kerbau.
Penyelenggaraan pesta tradisionil ini bisa memakan biaya berjuta-juta rupiah, hal ini merupakan satu kontradiksi dengan keadaan nyata masyarakat Tator yang relatip masih rendah taraf hidup dan dan kemampuannya.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa upacara-upacara itu bisa digolongkan sesuatu yang tidak produktip dan pemborosan yang sangat merugikan. Walaupun semua biaya dipikul secara gotong royong oleh masyarakat.
Ini jelas merupakan suatu masalah yang perlu dipikirkan, karena merupakan keadaan yang bertolak belakang. Disatu pihak Pemda ingin memajukan kehidupan rakyat dengan keluar dari tradisi yang merugikan dan tidak produktip, dilain pihak ada semacam keinginan agar terpeliharanya upacara tersebut dengan maksud komersil dan untuk dapat menarik wisatawan ke Tator yang mempunyai ke khasan itu.
Masalah lain yang masih memerlukan study yang lebih mandalam acalah apakah bidang Pariwata ini bisa dijadikan sektor yang produktif sebagai sumber dana sehingga bisa menunjang kelancaran sektor-sektor lain?.
Kemudian apakah sektor ini bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas Tana Toraja dan bukan hanya sebagian kecil pemilik modal yang bisa membuat Hotel, Restaurant, atau Toko-toko souvenir saja?.
Dalam pengamatan kami memang di obyek pariwisata ini tidak terdapat rakyat kecil yang menjajakan makanan, minuman atau souvenir yang khas Toraja, itu semua hanya bisa ditemui di took dan Restaurant Makale atau Rantepao dan bukan di desa dimana terdapat obyek Pariwisata atau upacara-upacara adat diadakan dan melihat upacara-upacara adat pun tidak dipungut bayaran alias gratis bagi para Turis. Hal ini jelas sangat merugikan.
Akhirnya yang menjadi kekawatiran mendalam adalah :
Jangan sampai masyarakat Tator ini atau Bangsa Indonesia umumnya hanya menjadi tontonan para Touris asing yang selalu menghendaki keaslian dan kekhasan kebudayaan, dengan membiarkan bangsa kita khususn'ya masyarakat Toraja ini terus menerus dan tetap tenggelam dalam alam tradisi serta adat yang merugikan .
Sebab hal tersebut jelas bertentanqan dengan tujuan Bangsa Indonesia, yang ingin mensejahterakan Bangsanya dan mencerdaskan serta memajukan kehidupan bangsa.
Karenanya pengembangan dunia pariwisata perlu dipikirkan masak-masak dan disesuaikan dengan kondisi situasi daerah dengan diadakan study dasar yang mendalam untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata dan kemampuan masyarakat sebenarnya.
Penutup.
Dilihat dari kekhasan keindahan alam, Adat Istiadat, dan Kebudayaan Tana Toraja ini memang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sektor Pariwisstanya.
Namun pengembangannya perlu dipikirkan dan direncanakan secara lebih teliti sesuai dengan tujuan bernegara dan bermasyarakat.
Semua ini jelas mengundang Pemerintah pusat untuk bisa ikut membantu/ terutama dalam fasilitas dan sarana jalan dan transportasi dalam pengembangan Pariwisata.
Gambaran dasar hasil penelitian ini jelas tidak berpretensi untuk bisa mewakili masalah Pariwisata seluruhnya di Tana Toraja namun setidaknya bisa merupakan gambaran awal untuk bisa dilanjutkan dengan study secara mendalam dan teliti dikemudian hari.
Masalah Pariwisata:
Sarana jalan.
Jalan-jalan raya yang menuju obyek obyek wisata umumnya dalam kondisi jelek. hal ini tentunya menghambat mekanisme perekonomian dan transportasi penduduk setempat.
Penginapan.
Sebaiknya tetap dipertahankan lokasinya berada dikota Makale dan Rantepao saja, karena hal ini membantu mengurangi pengaruh negatif yang mungkin timbul dari wisatawan asing khususnya.
Restaurant , Toko Souvenir.
Restaurant yang memadai kurang banyak, terutama yang berlokasi dikota. Toko souvenir cukup memadi di kta rantepao, hanya berlokasi ditempat wisata perlu dibuat tempat khusus sehinga tidak mengganggu obyek wisatanya.
Transportasi.
Untuk menuju ke obyek2 wisata perlu disediakan kendaraan. Tidak perlu setiap hari, tapi cukup padfa hari tertentu saja. Hal ini akan memudahkan wisatawan yang datang tidak dengan rombongan.
Obyek-obyek wisata.
Untuk obyek hidup seperti upacara kematian dan sebagainya, sebaiknya ruang gerak wisatawan asing dibatasi. Hal ini untuk menjaga keutuhan kebudayaan Toraja dari pengaruh negatif yang mungkin timbul. Sebab dalam upacara biasanya terjadi kontak langsung dengan penduduk.
Bagi obyek wisata yang baik, yang hidup maupun yang statis ( kuburan batu) perlu disediakan guide untuk memberikan penjelasan-penjelasan.









.jpg)














